oscar

Brooklyn

Posted on Updated on

Amerika sejak dulu sebagai negeri penuh harapan,harapan dalam berkarir dan menjadi tumpuan masa depan.

Brooklyn

Eillis (Saoirse Ronan) seorang gadis Irlandia yang beruntung mendapat kesempatan bekerja di negara Amerika tepatnya di Brooklyn. Walau terdengar mewah dan penuh menjanjikan,Eilis sebenarnya merasa berat meninggalkan kakaknya  Rose (Fiona Glascot) dan ibunya Mary (Jane Brennan) untuk waktu lama.

Hal ini terlihat sejak pertama kali Eilis menginjakkan kakinya di Brooklyn. Pekerjaan yang sudah ia dapatkanpun membuatnya tak merasa bahagia. Ia rindu kampung halamannya ia rindu oleh kehangatan bersama kakak dan ibunya,walaupun Eilis tinggal dengan teman teman wanita dalam satu kost hal itu tak membuatnya banyak berubah.

“You have to think like an American. You’ll feel so homesick that you’ll want to die, and there’s nothing you can do about it apart from endure it.

But you will, and it won’t kill you. And one day, the sun will come out you might not even notice straight away-it’ll be that faint. And then you’ll catch yourself thinking about something or someone who has no connection with the past.

Someone who’s only yours.And you’ll realize that this is where your life is”

Brooklyn2Tak lama Elis berjumpa dengan Tony Fierrelo (Emory Cohen) seorang pria berdarah Italia yang sopan dan ramah.

Tak sekedar berkenalan,nampaknya Tony sejak pertama sudah menyukai Eilis. Sejak itulah kegiatan rutinitas Eilis seakan bergairah tak  ada lagi hal yang membosankan dan sejenak ia lupa oleh kampung halaman karena sebenarnya dengan Tony ia menemukan keramahan dan kedekatan seperti berada di rumah.

Brooklyn3

Film yang tak banyak intrik. Ceritanya benar benar beriisikan tokoh positif,tak ada unsur jahat dan menampilkan sinematografi yang cemerlang,serta kostum yang dikenakan Eilis menurut saya girly dan terlihat cantik ;).

Saya kira filmnya akan berubah menjadi sedikit teror karena biasanya cerita seperti ini dekat dengan unsur penipuan atau penculikan :mrgreen: ternyata filmnya bagus dan sederhana. Saya menyukainya. Saoirse pun sesuai memerankan gadis lugu dijamannya. Begitupun  Emory memerankan tokoh pria bersimpati yang membuat iri gadis gadis lain 😉

Iklan

Steve Jobs

Posted on Updated on

Steve Jobs

Sebelumnya saya pernah menyaksikan film tentang Steve Jobs yang berjudul Jobs  diperankan oleh Ashton Kucher. Dari film tersebut bisa disimpulkan Jobs adalah seorang yang menyebalkan kalau tidak ingin disebut br#*%k. Terlepas bahwa dia seorang inventor. Jobs memang seorang yang cerdas,disaat orang lain masih berkutat dengan sistem komputer tak bersuara Jobs tetap ngotot bahwa sistemnya dapat berinteraksi dengan usernya.

“I don’t want people to dislike me. I’m indifferent to whether they dislike me”

Kali ini film dengan judul sedikit berbeda namun isinya tetap sama,menampilkan tindak tanduk satu orang yakni Steve Jobs. Dari gambaran profil Steve yaahh…kurang lebih sama dengan film sebelumnya. Sedangkan jalan ceritanya mengambil bagian saat Steve melakukan peluncuran produk produk kebanggaannya beserta intrik – intrik diantara orang orang sekelilingnya.

“Musicians play their instruments. I play the orchestra.”

Di film ini Steve selalu ditemani oleh asistennya yang setia Joanna Hoffman (Kate Winslet). Dalam setiap kesempatan hubungan kerja mereka semakin terjalin bahkan tanpa Joanna,Steve merasa ada yang kurang.

Steve Jobs2

Begitupun halnya hubungan dengan rekan rekan kerjanya,Steve yang memang sosok visionary,seakan dapat melihat jauh kedepan apa yang akan menjadi trending dan disukai oleh masyarakat terutama kaum muda. Dengan caranya ia berusaha mendorong dan menekan rekan kerjanya untuk terus berinovasi dan mengejawantahkan segala keinginan di kepalanya. Ide idenya yang cemerlang rasanya memang sulit dimengerti oleh orang awam.
Kekasihnyapun seakan tak mengerti dan tak peduli dengan segala penemuan yang dimiliki Steve. Yang diingunkan Chrisann (Katherine Waterstone),kekasih Steve hanya memperjuangkan nasib putrinya Lisa  agar dapat diakui dan mendapatkan tunjangan hidup. Tapi seperti diketahui,Steve tetaplah Steve yang selalu memiliki alasan dan merasa hal pribadinya termasuk pengakuan soal putrinya bukanlah suatu yang penting.

Butuh waktu bertahun tahun Steve akhirnya menyadari kekeliruannya. Itupun sebenarnya karena ada rasa terdorong oleh segala ocehan  Joanna. Ya saya rasa hanya Joanna yang dapat mengerti sepak terjang Steve dari urusan bisnis hingga pribadi. Saya salut dengan orang orang yang seperti itu,bisa betah berlama lama bekerja berhubungan baik dengan orang yang hampir tak sepaham dan selalu keras terhadap lainnya.

Film ini menurut saya tak lebih baik dibanding film sebelumnya. Secara pribadi saya lebih menyukai versi Jobs dibanding Steve Jobs. Mungkin karena di Jobs cerita bergulir sejak pertama Steve merintis usahanya. Sedangkan di Steve Jobs hanya menitikberatkan saat peluncuran produknya. Lalu pengambilan gambar dari tempat satu ke bagian lain terlihat membosankan belum lagi dialog dialog yang panjang dan saling berargumen.
Untuk peran Stevepun yang dimainkan oleh Michael Frassbender menurut saya kurang sesuai tapi bagi Kate Winslet,saya rasa kali ini ia juaranya memerankan tokoh Joanna..:D

Keseluruhan,hmmm…sebaiknya jangan berharap banyak dalm menyaksikan film ini. Saya  awalnya hanya ingin tahu ceritanya dari sisi berbeda eh ternyata sekedar membandingkan saja,filmnya kurang greget.

Saya hanya suka dibagian akhir saat Steve berbaikan dengan putrinya kemudian ia menawarkan akan membuat sejenis pemutar musik,yang dikemudian hari ternyata Steve meluncurkan apa yang kita kenal sebagai,IPod.

“A hundred songs. A thousand songs. Five hundred songs. Somewhere between five hundred and a thousand songs. Right in your pocket.

Because I can’t stand looking at that ridiculous Walkman anymore. You’re carrying around a brick playing a cassette tape. We’re not savages.

I’m gonna put a thousand songs in your pocket”

Room

Posted on Updated on

Tanpa ekpektasi apapun dan belum pernah sama sekali tahu sinopsis film ini. Room. Awalnya,dari judulnya saya pikir ini adalah film yang tak masuk akal dan membosankan. Ternyata,emosi saya malah ikut diaduk aduk dan rasanya terbawa ingin membantu Jack.

Room3

“Once upon a time, before I came, you cried and cried and watched TV all day, until you were a zombie. But then I zoomed down from heaven, through skylight, into Room.

Whoosh-pshew! And I was kicking you from the inside. Boom, boom! And then I shot out onto Rug with my eyes wide open, and you cutt-ed the cord and said, “Hello, Jack!”

Kisahnya sederhana,diadaptasi dari sebuah buku yang berjudul sama Room karya Emma Donoghue seorang Ma/Joy yang dimainkan dengan total oleh Brie Larson tinggal dalam sebuah kamar berukuran sempit bersama dengan anak lelakinya,Jack yang juga dimainkan dengan apik oleh Jacob Tremblay.

Rm_D22-_GK_0113.NEF

Kehidupan mereka sehari hari hanya berada dalam ruangan tersebut. Jack yang sejak kecil belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dunia luar. Untuk sekedar menghirup udara dan alam bebas pun belum pernah ia alamai. Kamar tersebut hanya menyisakan jendela kecil berkaca diatapnya. Yang tak mudah dijangkau oleh mereka. Hanya dari jendela itu sajalah pandangan mata mereka melihat keluar. Itupun hanya bentangan langit dan sedikit daun daun melambai. Sungguh mengenaskan nasib mereka.

“One, two, three… There’s room, then outer space, with all the TV planets, then heaven. Plant is real, but not trees. Spiders are real, and one time the mosquito that was sucking my blood. But squirrels and dogs are just TV, except lucky. He’s my dog who might come some day. Monsters are too big to be real, and the sea. TV persons are flat and made of colors.

But me and you are real”

Kenapa mereka bisa berada disana dan betah?Jo sebelumnya ternyata terperangkap oleh tipu daya seorang lelaki yang kemudian mereka panggil Old Nick (Sean Bridgers). Old Nick kemudian menyekap Jo dalam sebuah gudang. Dan gudang tersebut kini berubah menjadi kamar bagi ibu dan anak tersebut.

Selama 7 tahun disekap tanpa pernah keluar dari kamar. Bisa dibayangkan bagaimana pengap dan bosannya kehidupan sehari hari. Tapi bagi Jack,itu bukan masalah baginya,ia tetap merasa nyaman dan merasa senang tetap berada di kamar sempit,kesana kemari asalkan ia tetap bersama Ma.

Sedangkan Ma,merasa ini adaah saat yang tepat,di usia Jack yang ke 5 tahun inilah mestinya mereka dapat keluar menyelamatkan diri. Ma kemudian merancang skenario penyelamatan dengan bantuan Jack. Ya,dirasa Jack sudah cukup mengerti dan cukup tahu untuk diajak berdiskusi dan bertindak. Awalnya Jack tak mau melakukan ide yang disodorkan ma dan bersikeras melakukan hal tersebut kelak bila ia sudah berusia 7 tahun. Namun setelah dibujuk dan hal ini sudah mendesak serta bahaya semakin mengancam bagi Jack. Akhirnya Jackppun bersedia melakukan upaya penyelamatan. Anak yang berani.

“Say bye to Room, Ma”

Begitulah sekelumit kisah ibu dan anak lelakinya dalam film Room. Masih ada cerita setelah penyelamatan tersebut  dilakukan. Keberhasilan mereka banyak menjadi sorotan. Terutama kisah keberanian Jack.

Room2

Saya pun tidak jadi kecewa lantaran ceritanya begitu menyentuh bagi saya. Terutama episode ‘menyenangkan’ duet anak dan ibu dalam ruangan sempit. Emosi antara ibu dan anaknya berhasil dibangun oleh kedua pemain. Brie menjadi sosok ma yang kuat sekaligus penyayang. Sedangkan Jacob perannya sebagai Jack berhasil mengingatkan saya pada anak tercinta,keluguan dan kecerdasannya menyatu dalam perangai seorang anak.

“There are so many things out here. And sometimes it’s scary.

But that’s ok. Because it’s still just you and me…”

Disayangkan mestinya Jacob turut dinominasikan dalam ajang Oscar ya,tapi saya cukup senang Brie yang aktingnya bagus akhirnya menjuarai sebagai aktris terbaik di Oscar kemarin. Menurut saya filmnyapun tak buruk. Ini  sebuah drama,drama penyelamatan bahwa seorang anak di usianya yang masih dini mampu berbuat sesuatu yang besar bagi orangtuanya. Jack yang sejak lahir tak pernah mengenal dunia itu,kini terlahir kembali setelah upayanya yang tak sia – sia.

Room4

Ma : You’re gonna love it.

Jack : What? Ma : The world.

Spotlight

Posted on Updated on

We need to focus on the institution, not the individual priests. Practice and policy;

show me the church manipulated the system so that these guys wouldn’t have to face charges, show me they put those same priests back into parishes time and time again.

Show me this was systemic, that it came from the top, down.”

Spotlight

Spotlight. Awal mulanya mau dan penasaran menyaksikan film ini karena ada aktor Mark Ruffalo bermain disana dan karena dinominasikan di Oscar 2016 baik film dan pemainnya salah satunya,Mark. Saya menyaksikan film ini sebelum perhelatan Oscar diumumkan. Setelah melihat Spotlight juara sebagai Best Picture,cukup kaget juga karena saya yang menonton filmnya sama sekali tak menyangka kalau Spotlight menjadi juara.

Seusai menyaksikan filmnya saya merasa film ini tidak terlalu istimewa, walau ceritanya diadaptasi dari kisah nyata. Sepanjang jalan cerita,bergulir serius tak ada unsur santai mungkin bagi sebagian orang bisa jadi membosankan. Tapi penyelidikan yang mereka lakukan boleh disimak karena di jaman saat itu mereka berbekal kertas dan alat tulis lain dalam mencatat wawancara dengan nara sumbernya.

Sebuah surat kabar ternama The Boston Globe memiliki sebuah tim bernama Spotlight. Spotlight biasanya mengemukakan berita-berita brilian yang tidak terekspos oleh media secara mendalam. Berita tersebut dibuat secara intens dan tidak hanya dalam sepekan atau dalam kutun waktu singkat. Mereka bekerja berbulan-bulan demi menelaah lebih jauh sebuah kasus. Ya,berita yang mereka angkat bisa jadi menjadi sebuah kasus yang dapat mengemuka kembali.

Seperti yang mereka kerjakan saat ini tentang skandal pelecehan di sebuah Gereja Katolik terhadap anak – anak. Kasus yang mereka angkat ini sebenarnyapun berkat Marty Baron (Liev Schreiber) seorang editorial yang baru. Sarannya agar membuka kasus tersebut membuat tim Spotlight tak henti mencari sumber berita.

Dan memang dalam film ini nyaris tak diberikan kesempatan bercerita tentang kehidupan pribadi masing – masing tokoh. Isinya adalah kegiatan mereka sehari hari dalam mencari tahu kasus tersebut. Gambaran kegigihan tim Spotlight yang tak kenal lelah dan hampir tak mengenal waktu dalam mencari nara sumber.

“Sometimes it’s easy to forget that we spend most of our time stumbling around the dark. Suddenly, a light gets turned on and there’s a fair share of blame to go around.

I can’t speak to what happened before I arrived, but all of you have done some very good reporting here. Reporting that I believe is going to have an immediate and considerable impact on our readers. For me, this kind of story is why we do this.”

Spotlight2

Salut dengan kerja keras mereka begitupun hasil yang dicapai dalam hitungan masa saat itu. Saya sebenarnya menjagokan Mark sebagai pemenang Oscar tahun ini. Karena aktingnya yang kuat berperan sebagai Mark Rezendes namun nasib berkata lain. Tapi juga bukan berarti aktor dan aktris lain buruk. Sacha Pfeiffer sebagai satu satunya wanita dalam tim tersebut yang diperankan dengan baik pula oleh Rachel McAdams juga mendukung pemain lainnya. Lalu  Michael Keaton sebagai Walter Robinson , atasan dari tim Spotlight yang sesuai dengan gayanya yang serius.

Kemungkinan terbesar menurut saya,Spotlight juara karena ada pesan dalam film tersebut. Keselamatan anak – anak adalah hal penting dan tetap masih berlanjut sampai kapanpun. Jangan biarkan masa depan anak – anak kelam akibat ulah orang – orang yang tak bertanggung jawab. Seperti yang diucapkan oleh Marty sistem yang harus dan perlu dibenahi bukan saja pelakunya yang diincar kemudian dihukum. Bravo 👏

 

“We’re going after the system”