about me

Pengalaman Saya Sebagai Peserta BPJS Kesehatan

Posted on Updated on

Pengalaman pertama sebagai peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman pertama saya saat berkonsultasi dan berobat di sebuah Rumah Sakit Pusat di wilayah Jakarta Selatan,sebagai peserta BPJS.

BPJS kesehatan

Saya seorang ibu rumah tangga yang telah memiliki seorang putri yang kini berusia 3 tahun. Di tahun ke empat pernikahan saya dan suami kali ini,kami dipercayakan kembali untuk memiliki momongan. Syukurnya,di tempat bekerja suami telah dibuatkan kartu BPJS untuk paket sekeluarga. Maka saya tak khawatir apabila sewaktu-waktu membutuhkan pelayanan kesehatan.

Sampai pada suatu waktu,kehamilan saya yang masih beberapa minggu ini mengalami sedikit gangguan. Karena secara pengalaman pada anak pertama tidak mengalami hal tersebut dan juga tentunya ada rasa khawatir terhadap kehamilan kali ini.

Pregnancy 1

Sempat berkonsultasi dengan seorang bidan di salah satu satuan kesehatan dimana ini merupakan tingkat pertama dari jenjang yang mesti dilalui terlebih dahulu sebelum ke dokter spesialis. Namun karena saya merasa kurang puas dengan hasil dan pengobatannya. Maka saya memutuskan untuk berobat ke jenjang berikutnya yakni dokter spesialis Kandungan yang berada di Rumah Sakit.

Untuk dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis tersebut kita diharuskan meminta surat rujukan dari balai kesehatan/klinik/puskesmas tingkat pertama,dimana tempat kita ditunjuk. Lalu,syarat berikutnya adalah siapkan Kartu Keluarga asli,KTP asli dan kartu BPJS asli sertakan juga salinan dari masing-masing berkas kurang lebih sebanyak 3Β  (tiga) lembar. Karena begitulah peraturannya.

Dengan berbekal berkas-berkas tersebut,datanglah ke Rumah Sakit yang dituju. Pengalaman saya di hari pertama,suami datang pagi-pagi untuk mendaftar dan ambil nomor antrean,lalu saya menyusul beberapa jam kemudian. Kenapa harus pagi-pagi?karena yang berobat di Rumah Sakit tersebut tidak hanya satu,dua orang tapi,buanyaak sekali. Dalam sehari bisa 400-500an pasien mengantre dengan berbagai keluhan dan tujuan.

O ya,sebelum melakukan hal-hal tersebut sebaiknya siapakan mental dan fisik. Karena belum tentu kita mengantre pagi-pagi setelah itu mendapatkan nomor antrean lalu di antrean dokter spesialisnya akan dipanggil cepat juga. Tidak.
Jangan berpikir semua yang mengantre di bagian pendaftaran tidak sama tujuannya. Ada benarnya juga. Tapi saat kita ke ruangan poliklinik tempat praktek dokternya maka tahulah,tak ada bedanya. Pasien sama banyak dan kata wajibnya adalah:antre yang tak berujung. Jadi harus super sabar.

Jadi sekali lagi penting untuk membuat nyaman si pasien,karena saya melihat sendiri terutama pasien lansia dan anak-anak yang terlalu lama untuk segera diobati. Kalau perlu bawalah bantal,saya sendiri demi membunuh waktu memilih bawa majalah,buku bacaan dan mp3, dan jangan lupa cemilan,menu makan dan minuman yang cukup kalau untuk anak-anak tentu akan lebih banyak perbekalannya. Karena antrean di panggil bukan berdasarkan nomor tapi dipanggil atas nama pasien,jadi kita tak pernah tahu kapan dipanggilnya bukan?tak sempat untuk makan siang/sarapan misalnya,karena harus ‘ngendon’ di ruang tunggu jika sewaktu-waktu dipanggil. Kecuali bergantian dengan pengantar. O ya,bila perlu bawa charger handphone,sewaktu-waktu itu dibutuhkan. Percaya deh.

Dan begitulah sampainya di poliklinik Kandungan dan Kebidanan pemandangan pasien sedang duduk manis memenuhi kursi tunggu. Waktu berlalu,satu jam,dua jam saya tak dipanggil-panggil. Akhirnya saya dipanggil pukul 14.30 sore,dimana suami antre pendaftaran dari pukul 06.00 pagi,lalu saya datang pukul 10.30 pagi. Oalahh…saya padahal disini merasa bukan sebagai orang sakit,lalu bagaimana perasaan dan kondisi mereka yang benar-benar sakit dan segera butuh pertolongan?saya hanya geleng-geleng kepala.

Berikutnya,jangan berharap dalam satu hari itu kita akan selesai dari konsultasi dokter itu belum ke apotik,belum lagi periksa laboratorium dan lain-lain yang memang diharuskan dokter untuk tindakan selanjutnya. Saya dalam satu hari itu hanya dapat selesai konsultasi dengan dokternya,itupun karena harus tindakan USG (Ultra SonoGraphy),dokternya mengatakan “kenapa datangnya udah siang,bu?” (Maksudnya kalau datang pagi bisa sekalian USG). Sungguh saya cuma bisa membatin.

Tindakan selanjutnya saya diharuskan periksa laboratorium keesokan harinya,karena jam sore hari saya selesai konsultasi,laboratorium sudah tutup. Di laboratorium juga prosedurnya sama,wajib antre dengan mengambil nomor antrean. Oke,berarti esokpun saya harus berangkat pagi-pagi lagi demi sebuah nomor antrean.

Kemudian untuk USG saya dijadwalkan 3 hari kemudian,itupun sama judulnya:wajib antre seperti saat mendaftar pertamakali di loket pendaftaran. Kalau yang ini saya dan suami memutuskan untuk datang agak siang saja yahh..kira-kira pukul 8an saja. Toh dipanggilnya tidak serta merta cepat.

Langkah berikutnya menebus obat,lagi-lagi kita harus ambil nomor antrean,lagi-lagi kita dihadapkan pemandangan pasien ada yang bergerombol berdiri,duduk-duduk resah,mondar mandir,kebingungan di sekitarnya. Syarat penyerahan resep ini adalah berkas resep asli dan di copy (yang diminta hanya 1 lembar),surat rujukan asli dan copy kartu BPJS. Surat rujukan asli akan dikembalikan lagi ke kita saat pengambilan obat nanti.
Bingung mau fotocopy?di dekat apotek tersebut sebenarnyapun ada jasa fotocopy,tapi karena sudah sore apalah jadinya tukang fotocopy pun sudah pulang alias tutup. Maka jadilah kami dan beberapa pasien meminta tolong dengan salah seorang Office Boy di RS tersebut untuk mengcopy di luar RS. Lucunya,setelah copyan ditangan dan kami melapor ke apoteknya,apotekerpun menjawab bahwa obat yang diresepkan “sedang kosong”. Duuhh…ini memang sudah jalannya,saya cuma bisa sabar :). Pelajaran berikutnya adalah sebelum menyiapkan berkas ke meja apotek,tanya dulu kesediaan obatnya. Jadi kita tak perlu buang-buang waktu.
Perjalanan di hari pertama saya kali ini sungguh melelahkan 😦 masih ada tahapan berikutnya.

Keesokan hari saya berangkat pukul 6 pagi,sampai di pintu laboratorium pukul 06.45 sudah banyak pasien yang sebagian besar para lansia sudah memegang nomor masing-masing. Saya mendapatkan nomor 51. Pukul 7.30 lebih sedikit mulai dipanggil per 20 nomor,itu baru untuk penyerahan dokumen laboratorium yang diberikan dari dokter masing-masing ke bagian pendaftaran. Baru setelah itu kita akan dipanggil lagi untuk cek laboratorium di ruang berbeda.

Tes laboratorium pertama saya adalah ambil darah dan urine,selesai pukul 08.30. Lalu saya diminta untuk makan sesudahnya (untungnya saya membawa perbekalan) lalu dua jam kemudian masuk lagi untuk ambil darah lagi. Nah selama dua jam itulah saya menyibukkan membaca dan mendengarkan mp3 saja :)). Karena saya pribadi kurang suka berbagi atau mendengar keluh kesah dengan pasien lain.

Pukul 10.30 saya masuk lagi untuk ambil darah. Setelah itu,tahu dong…jangan berharap bisa selesai dalam hari itu juga. Jadi hasilnyapun tidak bisa didapat hari itu juga. Padahal dulu, saya sudah terbiasa dengan konsultasi dan laboratorium anak pertama di sebuah RS Jakarta Pusat dalam sehari selesai dengan cepat. Yah sudah,hasilnya akan saya ambil pada hari dimana saya jadwal USG saja dari pada bolak balik kaan..

O ya,masalah Rumah Sakit ini juga,ada aturannya dari BPJS. RS yang kita rujuk harus satu wilayah dengan tempat tinggal kita,sesuai KTP lah. Dan belum semua RS yang bisa menjamin semua tindakan dan pengobatan. Jadi misalnya, ada RS yang konsultasi dengan dokternya dijamin,tapi USGnya tidak,atau obatnya tidak. Begitu. Itupulalah yang membuat RS pemerintah menjadi membludak pasien rujukan karena sudah pasti dijamin semua tindakan.

Inilah yang disayangkan,pengguna BPJS Jakarta saja sudah banyak dan mereka butuh pelayanan kesehatan yang memadai tapi memang pada prakteknya belum semua RS bisa menjamin semua. Di jakarta Selatan saja tampilan pasien yang membludak sudah menjadi pemandangan biasa setiap harinya di RS pemerintah,tak dibayangkan bagaimana urusan seperti ini di kota lain atau bahkan di desa .

Melanjutkan cerita,sampai di RS seperti biasa ambil nomor pendaftaran lalu menuju poliklinik Kandungan dan Kebidanan,setelah ukur tensi dan berat badan,tinggal menunggu panggilan USG yang berbeda ruangan tak jauh dari poli Kandungan dan Kebidanan. Menurut jadwal yang saya tanyakan sebelumnya di area informasi,USG dimulai pukul 7 pagi sampai pukul 12 siang. Nyatanya,dokter baru datang dan siap menerima pasien sekitar pukul 10. Hmmm….

Disini saya sempat mendapat perlakuan dan pernyataan tidak menyenangkan dari perawatnya,mungkin karena dia membaca status saya. Tapi kan bukan berarti dia langsung menghakimi saya. Lalu yang tidak menyenangkan lagi adalah perlakuannya terhadap pasien yang saya anggap kurang sopan dan kurang tata krama.
Untuk itu sebaiknya kita sebagai pasien berhak untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya pada kondisi kita. Maka gunakan sebaik mungkin waktu yang kita punya saat berkonsultasi dengan dokter,banyaklah bertanya bila ada yang belum jelas,’cerewet’lah pada dokter untuk hal-hal yang ingin ditanyakan. Kalau perlu siapkan pertanyaaan-pertanyaan yang mengganjal sebelum masuk ruang dokter.

Setelah USG selesai saya harus kembali ke poli Kandungan dan Kebidanan lagi. Lagi-lagi menunggu panggilan tak berujung. Saya pikir karena saya toh bukan pasien dari awal pendaftaran,karena asal dari tindakan lain (USG) akan dipanggil tidak terlalu lama. Nyatanya,saya tetap saja ‘ngendon’ seharian di poli tersebut. Menurut perawatnya panggilan pasien dicampur antara yang baru maupun yang lama,dan masing -masing pintu dokter ‘katanya’ menangani kasus-kasus yang berbeda seperti ada kista,kanker atau lainnya. Jadilah lagi-lagi saya hanya memandang pintu masing-masing dokter yang berjumlah 6 itu dan berharap segera dipanggil. Intinya harus super sabar πŸ™‚

Di balik cerita ini sebenarnya saya cukup puas dengan penanganan pada dokter Kandungannya,dokter menanyakan mengenai kondisi saya dengan runut lalu ia tahu benar langkah-langkah selanjutnya.
Yang membuat geleng-geleng kepala yaa..itu sistem antrean yang luaamaa sekali. Pasien kan keluhannya beda-beda,belum lagi tempat tinggal yang tak sedikit dari mereka jauh dari RS tersebut. Ini yang mesti dibenahi,sistem antrean dan penyediaan layanan yang belum semua RS bisa menjamin.

Padahal kalau menilik dari iurannya dan bisa menjamin semua tindakan kesehatan itu sangat menguntungkan bagi mereka yang membutuhkan. Memang sudah saatnya Indonesia dimudahkan akses kesehatan. Semoga kedepannya RS lain turut berpartisipasi dalam program BPJS ini.

Akhirnya saya diminta datang lagi sebulan kemudian untuk USG kembali,agar mengetahui kondisi janin. Dan tanggal 24 Nopember 2014 kemarin saya kembali menjalani USG. Kali ini saya terbilang santai. Saya dan suami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi. Sampai di ruang USGpun seperti biasa masing menunggu panggilan yang tak pasti.

Sekitar jam 13.30 saya akhirnyaa…dipanggil juga. Yah..begitulah mau datang jam berapapun rasanya saya harus melewati sekitar dua sampai tiga jam. Untungnya saya berbekal bacaan πŸ™‚
Setelah dari USG menunggu lagi di poli kandungan dan kebidanan,dimana saya dan yang lain merupakan ‘rombongan’ terakhir. Karena ruang tunggu di poli tersebut sudah tak ada pasien lagi πŸ˜€

Tapi disini tak perlu menunggu lama. Setelah dipaparkan dan dijelaskan hasil USG. Syukurlah dari paparan tersebut hasilnya normal :). Segala penantian menunggu diantrean dan di ruang tunggu terbayar. Merasa bersyukur dan lega. Karena bayi dalam kandungan saya baik-baik saja.

Begitulah sedikit pengalaman saya berobat menggunakan kartu BPJS,semoga bermanfaat dan ada nilai positifnya :).
Disana sini memang masih banyak kekurangannya,tapi lagi-lagi kita patut bersyukur telah dimudahkan dalam hal kesehatan tinggal kita saja yang memilih dengan baik perlu tidaknya atau butuh tidaknya BPJS. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, menjaga pola hidup dan senantiasa berdoa memohon keselamatan dan kesehatan dariNYA.