Uncategorized

Miracles from Heaven

Posted on Updated on

“A miracle is defined by something not explained by scientifc laws” 

Miracles

Setiap umat manusia akan diberi ujian sesuai dengan kemampuannya dalam menghadapi dan mengatasi ujian tersebut. Mestinya dengan ujian manusia semakin yakin dan lebih dekat dengan Penciptanya. Namun adakalanya manusia bisa khilaf dan merasa hilang keyakinan. Seperti yang dikisahkan dalam film ini.

Disaat keyakinan mulai surut,ternyata sang pencipta tidaklah meninggalkan umatnya,bahkan ia memberi banyak keajaiban. Keajaiban yang tanpa disadari justru memberikan jalan pertolongan.

“When you have kids… things get messy.”

Awalnya Kevin (Martin Henderson) dan Christy Beam (Jennifer Garnier) memiliki keluarga kecil bahagia dengan tiga orang anak perempuan mereka. Keluarga ini juga taat dalam beragama. Keyakinan mereka tak dapat diragukan.

“You either roll with it, or you get rolled on. You get rolled on, you get flat.”

Hingga seorang anak perempuan mereka,yakni Anna (Kylie Rogers) mengidap penyakit yang sulit disembuhkan pada pencernaannya. Anna kini tak bebas bermain saat sehat dulu. Tentunya bagi Kevin dan Christy yang berupaya memberikan kesembuhan bagi Anna. Terutama sekali Christy sebagai seorang ibu yang berusaha keras mencari jalan keluar,meminta pertolongan pada dokter yang berpengalaman.

Film ini diadaptasi dari sebuah novel yang ditulis oleh Christy Beam berjudul Three Miracles From Heaven: A Sick Little Girl, Her Journey to Heaven, dan the Lives Forever Changed. 

Miracles2

“It’s okay Mom, not everyone is gonna believe. That’s alright. They’ll get there when they get there.” 

Walaupun eksekusi dari film ini sederhana dan apa adanya tapi banyak memuat nilai-nilai kebajikan yang bisa diserap. Memang maksud dari film ini adalah keyakinan hidup mereka dan keaembuhan Anna melalui keajaiban-keajaiban yang ditemui.

Menyaksikan film ini membuat penonton ikut terharu,terharu oleh Christy sebagai seorang ibu digambarkan begitu kuat memberikan pertolongan pada Anna. Begitupun Anna yang mengerti akan kondisinya yang sulit disembuhkan namun ia tetap pada keyakinannya.

Miracles1

 

“Miracles are everywhere.

Miracles are goodness.

Miracles are love.  

Miracles are God, and God is forgiveness.” 

Bumi – Tere Liye

Posted on Updated on

“Bumi kita memiliki kehidupan yang rumit. Ada sisi lain dari kehidupan selain yang biasa kita lihat sehari-hari.

Dunia lain.”

Bumi

Raib,kini usianya 15 tahun, ia selama ini memiliki rahasia yang ia pendam sendiri tanpa ada orang lain yang mengetahui termasuk orangtuanya. Raib memiliki kelebihan yakni dapat menghilang,hanya dengan menutup mukanya dengan kedua tangannya maka sekejap tak terlihat, hilang.

Raib berteman akrab dengan Seli. Walaupun Seli terlihat biasa saja,belakangan ternyata Selipun memiliki kekuatan diluar kebiasaan manusia. Ia mampu mengeluarkan petir dari tangannya dan dapat memindahkan benda-benda di sekitarnya. Selain Seli ada pula Ali,cowok yang sikapnya menyebalkan bagi Raib dan Seli. Tapi dibalik sikapnya tersebut,Ali sebenarnya memiliki kejeniusan sendiri.

Raib mulai gelisah saat sesosok tinggi kurus mulai datang ke kamarnya melalui cerminnya. Ia menekan Raib agar terus berlatih menghilangkan benda-benda dimuali dari sekitarnya. Tapi Raib tak mau semudah itu di perintah,apalagi sosok tinggi kurus tersebut menurutnya sangat keras dan jahat. Selang waktu,Raib ternyata memang mampu dapat menghilangkan benda-benda di kamarnya namun benda yang hilang tak dapat ia kembalikan lagi walaupun ia berlatih sekeras mungkin.

 
“Apapun yang terlihat,boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apapun yang hilang,tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat tempat yang hilang.”

 

Lalu ada Miss Selena,seorang guru matematika disekolah mereka memberikan sebuah buku PR pada Raib dengan pesannya yang terselubung. Kemudian sebuah kejadian dialami oleh Raib dan Seli yang membuat hidup mereka  berubah menjadi sebuah petualangan seru (bagi Ali :mrgreen:). Bermula akibat jatuhnya tiang listrik yang hampir menimpa Raib dan Seli. Dari peristiwa tersebut rahasia Raib dan Seli selama ini akhirnya diketahui oleh mereka bertiga termasuk Ali.

Singkat cerita mereka terlempar ke sebuah ruma,pemiliknya bernama Ilo di negeri bulan. Ilo pun merasa heran,dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti Raib mereka bertiga berusaha mencari jalan pulang. Namun bukan jalan pulang yanga mereka temukan tetapi fakta hidup mereka terutama bagi Raib dan Seli. Dari Av,kakek dari kakek Ilo menceritakan kehidupan yang sebenarnya. Raib ternyata berasal dari klan bulan sedangkan Seli berasal dari klan Matahari. Ali termasuk klan rendah layaknya manusia biasa yang mampu beradaptasi.

Lalu sebuah pemberontakan terjadi di klan bulan,nasib mereka harus berpindah dan beraembunyi sementara,karena secara tidak langsung ini berhubungan dengan kegiatan mereka bertiga. Diketahui bahwa pemberontakan dipimpin oleh Tamus,ialah sosok tinggi kurus yang muncul di cermin Raib selama ini. Raib,Seli dan Ali terperangkap dan pada akhirnya mesti melakukan sesuatu terhadap apa yang telah dilakukan Tamus dan menyelamatkan Miss Selena yang juga tersandera oleh Tamus.

Dari judulnya kelihatannya akan menarik. Petualangan yamg mungkin menjadi serial berikutnya. Sayangnya,buku ini menurut saya tidak sesuai dengan saya,yang mungkin lebih sesuai di kalangan remaja. Jalan cerita antar tokoh terkesan masih ‘tertatih – tatih’. Seakan pembaca masih perlu diajarkan. Dalam bagian cerita rasanya seperti mirip dengan cerita lain yang berbau fantasi.

Tapi yang saya suka adalah tokoh Ali. Menurut saya Ali tidak semenyebalkan itu bagi Raib dan Seli,kalau dari usia mereka yang diceritakan,Ali terkesan wajar hanya Raib dan Seli yang berlebihan menafsirkannya. Belum lagi kecerdasan Ali yang pada akhirnya ada benarnya,tapi kadang karena keegoisan keperempuanan Raib dan seli,Ali seakan dipandang sebelah mata. Mestinya Ali yang menjadi tokoh utama di cerita ini :mrgreen: .

Bacaan yang ringan sekali,dibeberapa halaman saya melompati bagian bagian yang terkesan lama dan seakan tokoh Raib dan Seli menjadi seperti “anak kecil’ yang memang mudah takut dan labil dalam emosi dan sikap. Atau karena memang gaya cerita Tere Liye seperti itu?:D O ya,buku ini berlanjut di judul berikutnya,Bulan.

 

“Ketahuilah,sumber kekuatan terbaik adalah yang sering disebut dengan tekad,kehendak.”

Brooklyn

Posted on Updated on

Amerika sejak dulu sebagai negeri penuh harapan,harapan dalam berkarir dan menjadi tumpuan masa depan.

Brooklyn

Eillis (Saoirse Ronan) seorang gadis Irlandia yang beruntung mendapat kesempatan bekerja di negara Amerika tepatnya di Brooklyn. Walau terdengar mewah dan penuh menjanjikan,Eilis sebenarnya merasa berat meninggalkan kakaknya  Rose (Fiona Glascot) dan ibunya Mary (Jane Brennan) untuk waktu lama.

Hal ini terlihat sejak pertama kali Eilis menginjakkan kakinya di Brooklyn. Pekerjaan yang sudah ia dapatkanpun membuatnya tak merasa bahagia. Ia rindu kampung halamannya ia rindu oleh kehangatan bersama kakak dan ibunya,walaupun Eilis tinggal dengan teman teman wanita dalam satu kost hal itu tak membuatnya banyak berubah.

“You have to think like an American. You’ll feel so homesick that you’ll want to die, and there’s nothing you can do about it apart from endure it.

But you will, and it won’t kill you. And one day, the sun will come out you might not even notice straight away-it’ll be that faint. And then you’ll catch yourself thinking about something or someone who has no connection with the past.

Someone who’s only yours.And you’ll realize that this is where your life is”

Brooklyn2Tak lama Elis berjumpa dengan Tony Fierrelo (Emory Cohen) seorang pria berdarah Italia yang sopan dan ramah.

Tak sekedar berkenalan,nampaknya Tony sejak pertama sudah menyukai Eilis. Sejak itulah kegiatan rutinitas Eilis seakan bergairah tak  ada lagi hal yang membosankan dan sejenak ia lupa oleh kampung halaman karena sebenarnya dengan Tony ia menemukan keramahan dan kedekatan seperti berada di rumah.

Brooklyn3

Film yang tak banyak intrik. Ceritanya benar benar beriisikan tokoh positif,tak ada unsur jahat dan menampilkan sinematografi yang cemerlang,serta kostum yang dikenakan Eilis menurut saya girly dan terlihat cantik ;).

Saya kira filmnya akan berubah menjadi sedikit teror karena biasanya cerita seperti ini dekat dengan unsur penipuan atau penculikan :mrgreen: ternyata filmnya bagus dan sederhana. Saya menyukainya. Saoirse pun sesuai memerankan gadis lugu dijamannya. Begitupun  Emory memerankan tokoh pria bersimpati yang membuat iri gadis gadis lain 😉

Steve Jobs

Posted on Updated on

Steve Jobs

Sebelumnya saya pernah menyaksikan film tentang Steve Jobs yang berjudul Jobs  diperankan oleh Ashton Kucher. Dari film tersebut bisa disimpulkan Jobs adalah seorang yang menyebalkan kalau tidak ingin disebut br#*%k. Terlepas bahwa dia seorang inventor. Jobs memang seorang yang cerdas,disaat orang lain masih berkutat dengan sistem komputer tak bersuara Jobs tetap ngotot bahwa sistemnya dapat berinteraksi dengan usernya.

“I don’t want people to dislike me. I’m indifferent to whether they dislike me”

Kali ini film dengan judul sedikit berbeda namun isinya tetap sama,menampilkan tindak tanduk satu orang yakni Steve Jobs. Dari gambaran profil Steve yaahh…kurang lebih sama dengan film sebelumnya. Sedangkan jalan ceritanya mengambil bagian saat Steve melakukan peluncuran produk produk kebanggaannya beserta intrik – intrik diantara orang orang sekelilingnya.

“Musicians play their instruments. I play the orchestra.”

Di film ini Steve selalu ditemani oleh asistennya yang setia Joanna Hoffman (Kate Winslet). Dalam setiap kesempatan hubungan kerja mereka semakin terjalin bahkan tanpa Joanna,Steve merasa ada yang kurang.

Steve Jobs2

Begitupun halnya hubungan dengan rekan rekan kerjanya,Steve yang memang sosok visionary,seakan dapat melihat jauh kedepan apa yang akan menjadi trending dan disukai oleh masyarakat terutama kaum muda. Dengan caranya ia berusaha mendorong dan menekan rekan kerjanya untuk terus berinovasi dan mengejawantahkan segala keinginan di kepalanya. Ide idenya yang cemerlang rasanya memang sulit dimengerti oleh orang awam.
Kekasihnyapun seakan tak mengerti dan tak peduli dengan segala penemuan yang dimiliki Steve. Yang diingunkan Chrisann (Katherine Waterstone),kekasih Steve hanya memperjuangkan nasib putrinya Lisa  agar dapat diakui dan mendapatkan tunjangan hidup. Tapi seperti diketahui,Steve tetaplah Steve yang selalu memiliki alasan dan merasa hal pribadinya termasuk pengakuan soal putrinya bukanlah suatu yang penting.

Butuh waktu bertahun tahun Steve akhirnya menyadari kekeliruannya. Itupun sebenarnya karena ada rasa terdorong oleh segala ocehan  Joanna. Ya saya rasa hanya Joanna yang dapat mengerti sepak terjang Steve dari urusan bisnis hingga pribadi. Saya salut dengan orang orang yang seperti itu,bisa betah berlama lama bekerja berhubungan baik dengan orang yang hampir tak sepaham dan selalu keras terhadap lainnya.

Film ini menurut saya tak lebih baik dibanding film sebelumnya. Secara pribadi saya lebih menyukai versi Jobs dibanding Steve Jobs. Mungkin karena di Jobs cerita bergulir sejak pertama Steve merintis usahanya. Sedangkan di Steve Jobs hanya menitikberatkan saat peluncuran produknya. Lalu pengambilan gambar dari tempat satu ke bagian lain terlihat membosankan belum lagi dialog dialog yang panjang dan saling berargumen.
Untuk peran Stevepun yang dimainkan oleh Michael Frassbender menurut saya kurang sesuai tapi bagi Kate Winslet,saya rasa kali ini ia juaranya memerankan tokoh Joanna..:D

Keseluruhan,hmmm…sebaiknya jangan berharap banyak dalm menyaksikan film ini. Saya  awalnya hanya ingin tahu ceritanya dari sisi berbeda eh ternyata sekedar membandingkan saja,filmnya kurang greget.

Saya hanya suka dibagian akhir saat Steve berbaikan dengan putrinya kemudian ia menawarkan akan membuat sejenis pemutar musik,yang dikemudian hari ternyata Steve meluncurkan apa yang kita kenal sebagai,IPod.

“A hundred songs. A thousand songs. Five hundred songs. Somewhere between five hundred and a thousand songs. Right in your pocket.

Because I can’t stand looking at that ridiculous Walkman anymore. You’re carrying around a brick playing a cassette tape. We’re not savages.

I’m gonna put a thousand songs in your pocket”

Room

Posted on Updated on

Tanpa ekpektasi apapun dan belum pernah sama sekali tahu sinopsis film ini. Room. Awalnya,dari judulnya saya pikir ini adalah film yang tak masuk akal dan membosankan. Ternyata,emosi saya malah ikut diaduk aduk dan rasanya terbawa ingin membantu Jack.

Room3

“Once upon a time, before I came, you cried and cried and watched TV all day, until you were a zombie. But then I zoomed down from heaven, through skylight, into Room.

Whoosh-pshew! And I was kicking you from the inside. Boom, boom! And then I shot out onto Rug with my eyes wide open, and you cutt-ed the cord and said, “Hello, Jack!”

Kisahnya sederhana,diadaptasi dari sebuah buku yang berjudul sama Room karya Emma Donoghue seorang Ma/Joy yang dimainkan dengan total oleh Brie Larson tinggal dalam sebuah kamar berukuran sempit bersama dengan anak lelakinya,Jack yang juga dimainkan dengan apik oleh Jacob Tremblay.

Rm_D22-_GK_0113.NEF

Kehidupan mereka sehari hari hanya berada dalam ruangan tersebut. Jack yang sejak kecil belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di dunia luar. Untuk sekedar menghirup udara dan alam bebas pun belum pernah ia alamai. Kamar tersebut hanya menyisakan jendela kecil berkaca diatapnya. Yang tak mudah dijangkau oleh mereka. Hanya dari jendela itu sajalah pandangan mata mereka melihat keluar. Itupun hanya bentangan langit dan sedikit daun daun melambai. Sungguh mengenaskan nasib mereka.

“One, two, three… There’s room, then outer space, with all the TV planets, then heaven. Plant is real, but not trees. Spiders are real, and one time the mosquito that was sucking my blood. But squirrels and dogs are just TV, except lucky. He’s my dog who might come some day. Monsters are too big to be real, and the sea. TV persons are flat and made of colors.

But me and you are real”

Kenapa mereka bisa berada disana dan betah?Jo sebelumnya ternyata terperangkap oleh tipu daya seorang lelaki yang kemudian mereka panggil Old Nick (Sean Bridgers). Old Nick kemudian menyekap Jo dalam sebuah gudang. Dan gudang tersebut kini berubah menjadi kamar bagi ibu dan anak tersebut.

Selama 7 tahun disekap tanpa pernah keluar dari kamar. Bisa dibayangkan bagaimana pengap dan bosannya kehidupan sehari hari. Tapi bagi Jack,itu bukan masalah baginya,ia tetap merasa nyaman dan merasa senang tetap berada di kamar sempit,kesana kemari asalkan ia tetap bersama Ma.

Sedangkan Ma,merasa ini adaah saat yang tepat,di usia Jack yang ke 5 tahun inilah mestinya mereka dapat keluar menyelamatkan diri. Ma kemudian merancang skenario penyelamatan dengan bantuan Jack. Ya,dirasa Jack sudah cukup mengerti dan cukup tahu untuk diajak berdiskusi dan bertindak. Awalnya Jack tak mau melakukan ide yang disodorkan ma dan bersikeras melakukan hal tersebut kelak bila ia sudah berusia 7 tahun. Namun setelah dibujuk dan hal ini sudah mendesak serta bahaya semakin mengancam bagi Jack. Akhirnya Jackppun bersedia melakukan upaya penyelamatan. Anak yang berani.

“Say bye to Room, Ma”

Begitulah sekelumit kisah ibu dan anak lelakinya dalam film Room. Masih ada cerita setelah penyelamatan tersebut  dilakukan. Keberhasilan mereka banyak menjadi sorotan. Terutama kisah keberanian Jack.

Room2

Saya pun tidak jadi kecewa lantaran ceritanya begitu menyentuh bagi saya. Terutama episode ‘menyenangkan’ duet anak dan ibu dalam ruangan sempit. Emosi antara ibu dan anaknya berhasil dibangun oleh kedua pemain. Brie menjadi sosok ma yang kuat sekaligus penyayang. Sedangkan Jacob perannya sebagai Jack berhasil mengingatkan saya pada anak tercinta,keluguan dan kecerdasannya menyatu dalam perangai seorang anak.

“There are so many things out here. And sometimes it’s scary.

But that’s ok. Because it’s still just you and me…”

Disayangkan mestinya Jacob turut dinominasikan dalam ajang Oscar ya,tapi saya cukup senang Brie yang aktingnya bagus akhirnya menjuarai sebagai aktris terbaik di Oscar kemarin. Menurut saya filmnyapun tak buruk. Ini  sebuah drama,drama penyelamatan bahwa seorang anak di usianya yang masih dini mampu berbuat sesuatu yang besar bagi orangtuanya. Jack yang sejak lahir tak pernah mengenal dunia itu,kini terlahir kembali setelah upayanya yang tak sia – sia.

Room4

Ma : You’re gonna love it.

Jack : What? Ma : The world.

Spotlight

Posted on Updated on

We need to focus on the institution, not the individual priests. Practice and policy;

show me the church manipulated the system so that these guys wouldn’t have to face charges, show me they put those same priests back into parishes time and time again.

Show me this was systemic, that it came from the top, down.”

Spotlight

Spotlight. Awal mulanya mau dan penasaran menyaksikan film ini karena ada aktor Mark Ruffalo bermain disana dan karena dinominasikan di Oscar 2016 baik film dan pemainnya salah satunya,Mark. Saya menyaksikan film ini sebelum perhelatan Oscar diumumkan. Setelah melihat Spotlight juara sebagai Best Picture,cukup kaget juga karena saya yang menonton filmnya sama sekali tak menyangka kalau Spotlight menjadi juara.

Seusai menyaksikan filmnya saya merasa film ini tidak terlalu istimewa, walau ceritanya diadaptasi dari kisah nyata. Sepanjang jalan cerita,bergulir serius tak ada unsur santai mungkin bagi sebagian orang bisa jadi membosankan. Tapi penyelidikan yang mereka lakukan boleh disimak karena di jaman saat itu mereka berbekal kertas dan alat tulis lain dalam mencatat wawancara dengan nara sumbernya.

Sebuah surat kabar ternama The Boston Globe memiliki sebuah tim bernama Spotlight. Spotlight biasanya mengemukakan berita-berita brilian yang tidak terekspos oleh media secara mendalam. Berita tersebut dibuat secara intens dan tidak hanya dalam sepekan atau dalam kutun waktu singkat. Mereka bekerja berbulan-bulan demi menelaah lebih jauh sebuah kasus. Ya,berita yang mereka angkat bisa jadi menjadi sebuah kasus yang dapat mengemuka kembali.

Seperti yang mereka kerjakan saat ini tentang skandal pelecehan di sebuah Gereja Katolik terhadap anak – anak. Kasus yang mereka angkat ini sebenarnyapun berkat Marty Baron (Liev Schreiber) seorang editorial yang baru. Sarannya agar membuka kasus tersebut membuat tim Spotlight tak henti mencari sumber berita.

Dan memang dalam film ini nyaris tak diberikan kesempatan bercerita tentang kehidupan pribadi masing – masing tokoh. Isinya adalah kegiatan mereka sehari hari dalam mencari tahu kasus tersebut. Gambaran kegigihan tim Spotlight yang tak kenal lelah dan hampir tak mengenal waktu dalam mencari nara sumber.

“Sometimes it’s easy to forget that we spend most of our time stumbling around the dark. Suddenly, a light gets turned on and there’s a fair share of blame to go around.

I can’t speak to what happened before I arrived, but all of you have done some very good reporting here. Reporting that I believe is going to have an immediate and considerable impact on our readers. For me, this kind of story is why we do this.”

Spotlight2

Salut dengan kerja keras mereka begitupun hasil yang dicapai dalam hitungan masa saat itu. Saya sebenarnya menjagokan Mark sebagai pemenang Oscar tahun ini. Karena aktingnya yang kuat berperan sebagai Mark Rezendes namun nasib berkata lain. Tapi juga bukan berarti aktor dan aktris lain buruk. Sacha Pfeiffer sebagai satu satunya wanita dalam tim tersebut yang diperankan dengan baik pula oleh Rachel McAdams juga mendukung pemain lainnya. Lalu  Michael Keaton sebagai Walter Robinson , atasan dari tim Spotlight yang sesuai dengan gayanya yang serius.

Kemungkinan terbesar menurut saya,Spotlight juara karena ada pesan dalam film tersebut. Keselamatan anak – anak adalah hal penting dan tetap masih berlanjut sampai kapanpun. Jangan biarkan masa depan anak – anak kelam akibat ulah orang – orang yang tak bertanggung jawab. Seperti yang diucapkan oleh Marty sistem yang harus dan perlu dibenahi bukan saja pelakunya yang diincar kemudian dihukum. Bravo 👏

 

“We’re going after the system”

The Revenant

Posted on Updated on

As long as you can still grab a breath, you fight. You breathe… keep breathing.

The revenant

Salah satu nominator Oscar 2016 yang membuat penasaran untuk disaksikan adalah film The Revenant ini. Tak hanya filmnya,akting Leonardo Di Caprio juga menjadi nominasi di ajang bergengsi tiap tahun tersebut.

Penasaran dengan filmnya karena menurut orang bagus dan memang pantas menjadi nominator Oscar. Setelah saya menyaksikannya,ternyata film dengan durasi dua jam lebih ini membuat saya  berkomentar,cenderung biasa saja. Film yang menurut saya terkesan sendu dan suram ini membuat saya yang menyaksikan juga agak berat,dalam arti muram sepanjang film.

Saya hanya melihat sosok Hugh Glass tersenyum disaat ia ikut menjulurkan lidahnya ditemani seorang indian dari suku pawnee. Selebihnya Alejandro G. Iñárritu sukses membuat film ini dengan adegan brutal,kelam dan dingin.

Film yang diadaptasi dari sebuah buku berjudul The Revenant: A Novel of Revenge karya Michael Punke memang hanya tentang pembalasan dibalut petualangan epik nan tangguh dari tokoh Hugh Glass.

Revenge is in god’s hands not mine.

Di masa 1820an sebuah ekspedisi perburuan kulit hewan yang dipimpin oleh Kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson) diburu oleh kawanan Indian suku Ree. Glass dianggap penting oleh kapten Andrew karena ia tahu seluk beluk hutan dan dapat berbahasa indian karena memang telah lama mendiami kawasan tersebut. Dalam ekspedisinya Glass mengajak serta anak lelakinya yang berdarah indian,Hawk (Forrest Goodluck).

Akibat diserang suku indian ree,mereka harus berpindah tempat agar tidak kembali terlacak. Namun upaya penyelamatan terhenti karena Glass diserang oleh seekor beruang besar. Glass terluka parah. Tak mampu melanjutkan perjalanan,untuk berdiri tegakpun ia tak mampu. Begitu sayangnya kapten Andrew pada Glass,maka ditunjuklah beberapa rekannya untuk menemani Glass,dalam hutan. Salah satunya adalah Fitzgerald (Tom Hardy).

Fitzgerald menurut saya bagai ‘malaikat maut’ yang ingin segera menghabisi Glass. Nampaknya ia selalu tak setuju dengan Glass,Fitz pun merasa “gerah” bila Glass masih hidup. Maka motif sebenarnya ia bersedia menemani Glass selain karena uang adalah,ia ingin cepat-cepat menyudahi nyawa Glass.

Di suatu kesempatan Fitz melakukan aksinya,namun bukan Glass yang mati ditangannya. Hawk anak laki laki Glass akhirnya terbunuh di tangan Fitzgerald. Aksi buruk Fitzgerald lainnya adalah meninggalkan Glass sendirian dalam keadaan tak berdaya.

My son. I’m right here. You hear me?

Maka dalam kepiluan kehilangan anak satu satunya,ia harus bangkit dalam kesendirian. Glass berupaya belajar untuk berdiri dan berjalan. Tak ada yang menyangka Glass ternyata masih hidup. Tujuan Glass saat ini selain melarikan diri dari kejaran kaum indian kini ia harus menemukan Fitzgerald dan menuntaskan apa yang sudah dilakukan terhadap dirinya.

Berlatar era 1800an,selain film ini menampilkan adegan tragis,yang menarik adalah visualisasi hamparan hutan dengan lapisan salju tebal serta warna warna alam memenuhi cerita film ini. Sama halnya dengan karya film sebelumnya,Birdman, Iñárritu pun mengandalkan teknik kamera yang stimultan dengan sedikit jeda seakan kisah Glass hidup didepan mata. Sayangnya memang beberapa adegan digambarkan sunyi tanpa dialog,entah ini menguntungkan karena dapat menampilkan sisi lain dari sebuah film atau malah membosankan.

Untungnya akting Leonardo begitu brilian. Aktingnya  terdahulu dalam Blood Diamond,ia fasih menggunakan bahasa setempat,Sierra Leone. Kini Leo pandai mengucapkan bahasa indian. Rasanya kali ini Leo pantas menyabet piala Oscar untuk aktingnya. Tak main main ia dalam perannya. Selain harus berakting kelam dengan selubung pakaian tebal ia juga berakting seperti manusia jaman purba.

As long as you can still grab a breath, you fight. You breathe. Keep breathing. When there is a storm. And you stand in front of a tree. If you look at its branches, you swear it will fall. But if you watch the trunk, you will see its stability.

Leonardo

Saya pribadi menjagokan Leonardo meyabet piala Oscar sebagai aktor terbaik tahun ini.