Ayah – Andrea Hirata

Posted on Updated on

Ayah-andrea hirata

Jarang sekali novel novel kita bercerita tentang sosok ayah. Kebanyakan yang sudah pasti adalah sosok ibu yang amat kita hormati. Andrea Hirata kali ini menulis cerita berjudul Ayah,awalnya saya sedikit pesimis,apakah bisa penulis menggali cerita dari seorang ayah. Ternyata penulis yang sudah menelurkan banyak cerita ini memang mantap sekali dalam bercerita.  

Hidup ini memang dipenuh orang-orang yang kita inginkan,tetapi tak menginginkan kita dan sebaliknya. (Hal. 165)

Ayah disini digambarkan oleh sosok Sabari yang amat menyayangi anak semata wayangnya,Zorro dan cinta mati terhadap Lena. Tak ada gambaran ayah yang membosankan tapi sebaliknya,Sabari yang sesuai dengan namanya selalu sabar,menerima takdir hidupnya. Ia tak banyak menuntut dan tak banyak berkeluh kesah.

Benar kata orang,sekuat apapun halangan,setinggi apapun tembok menjulang,tak ada yang tak dapat diluruhkan seorang anak. (Hal. 260)

Sabari yang gigih mempertahankan cintanya pada Lena sejak pertemuan pertamanya yang tak disengaja. Sabari yang tetap setia walaupun Lena sudah tak menginginkannya dan berpaling pada lelaki lain.
Tak hanya dengan Lena ia tak berputus asa. Dengan anak laki-lakinya Zorro,ia pun bisa jadi gila,perpisahan keduanya membuat Sabari hilang arah dan tak bersemangat. Hanya sahabat baiknya Tamat dan Ukun yang dapat membantu. Tamat dan Ukun berusaha mencari Zorro dan Lena ke tempat-tempat yang jauh yang pernah dikunjungi Lena.Berbekal seadanya.

Manusia bisa berada di tempat yang sama dalam waktu yang berbeda,tetapi tidak bisa berada di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama,semua itu karena pencipta manusia mau agar manusia setia. (Hal. 267)

Mengharukan kisah Sabari ini,terutama menanti pertemuannya dengan Zorro,anaknya yang selalu merindukan dan dirindukannya. Perjuangannya selama ini menanti kehadiran anaknya akhirnya terjawab.

Kalau kau dapat melihat ke dalam jiwaku

Kau akan melihat sungai mengalir

Anak-anak sungai itu berhilir dimataku

Dan bermuara di hatimu. (Hal. 273)

Di novel ini,penulis juga menyelipkan beberapa bait puisi. Puisi – puisi yang dibuat oleh Sabari dan Zorro.

Kulalui sungai yang berliku

Jalan panjang sejauh pandang

Debur ombak yang menerjang

Kukejar bayangan sayap elang

Disinilah kutemukan jejak-jejak untuk  pulang

Ayahku,kini aku telah datang

Ayah,lihatlah aku sudah pulang. (Hal. 384)

Saya rasa Andrea masih membuat novelnya dengan berciri,ciri khasnya yang bercerita di kampungnya,lalu kebiasaan – kebiasaan orang-orang disekeliling tokoh. Andrea membuat cerita ini menjadi sebuah drama bukan saja sesuatu yang hanya bercerita tentang ayah.  Sosok ayah yang digambarkan dengan segala kebaikan dan kekurangannya saling melengkapi.

Iklan

2 thoughts on “Ayah – Andrea Hirata

    Erna said:
    25 Desember 2015 pukul 05:50

    Waah baru baca beberapa halaman ni, lucu yaa )

      matureorchid responded:
      25 Desember 2015 pukul 10:25

      Iya ada lucu juga ada copy-pastenya :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s