Aruna dan Lidahnya – Laksmi Pamuntjak

Posted on Updated on

 

“Pada dasarnya kita semua makhluk yang mencari keragaman. Tapi sarapan adalah satu-satunya momen dalam kehidupan sehari hari dimana kita butuh kembali ke yang rutin. Ini karena kita merasa aman,nggak ada beban.”(Hal.185)

Sekilas dari judulnya,Aruna dan Lidahnya bisa jadi memang berisi tentang wisata kuliner yang dibalut dengan cerita lainnya. Tapi bagi saya novel ini menjadi kurang fokus atau seperti mengalami  kebingungan. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan penulis dalam jalan ceritanya,yang menurut saya berunsur serius tanpa kesan santai atau candaan dalam ceritanya.

Aruna dan Lidahnya

Aruna adalah seorang konsultan ahli wabah yang dipekerjakan oleh Kemenbura. Ia mengaku senang menikmati jenis makanan apapun,memanjakan lidahnya dengan berbagai rasa makanan. Tentunya masih ingat dalam ingatan kita akan wabah flu unggas yang terjadi di Indonesia. Kali ini Aruna bersama rekan kerjanya,Farish ditugaskan menyelidiki tentang wabah flu unggas yang sudah mengkhawatirkan di berbagai daerah di Indonesia.

“Kita semua punya pikira sendiri. Itu berarti kita juga punya upaya sendiri. Tapi saya nggak percaya bahwa keajaiban itu murni takdir Tuhan. Saya percaya keajaiban itu tak lepas dari upaya manusia. Bukan begitu?itu berarti kita harus berupaya sampai mentok,sebelum menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan.” (Hal.139)

Kemudian Aruna berkesempatan mengajak dua sahabatnya yakni Bono,seorang chef profesional dan Nadezhda seorang konsultan di sebuah media. Karena keduanya bisa dibilang memiliki kegemaran yang sama dengan Aruna yaitu doyan makan dan mau mencoba jenis makanan apapun.

“Ekonomi bisa amburadul,pasar bisa anjlok,kesenjangan sosial bisa melebar,politikus bisa korup dan tak becus,tapi orang tetap membuka usaha,tetap memasak,tetap memberi makan satu sama lain. Dan meskipun ‘terharu’ terasa seperti sebuah emosi murahan-begitu seringnya kata itu dipakai,untuk hal-hal yag tak layak menyandangnya-itulah yang saat itu kurasakan. Aku terharu” (Hal.161)

Jadilah kunjungan kerja diselingi  oleh keramaian antara Bono yang sudah seperti juri master chef yang menilai cita rasa sebuah makanan. Atau kelihaian dalam mengolah kata Nadezhda bila ia mulai berbicara.
Maka perjalanan menyerlidiki wabah flu unggas di balut dengan cerita wisata kuliner nusantara,atau mungkin cerita sebaliknya :mrgreen: .

Betapa rencananya manusia ketika mereka masih begitu tergantung pada nasib baik dan bukan pada sistem yang bisa diandalkan,dimana segala yang membawa kebajikan dan perbaikan-sains,dokter,rumah sakit,guru,sekolah,tak selalu bisa diakses. Bayangkan betapabahagianya aku bahwa dalam sengsara saling ketidaktahuan itu aku bisa menyelamatkan seseorang,justru dengan keawamanku.” (Hal.239-240)

Entahlah,yang pasti saya merasakan keunikan dalam membaca Prolog:Racau karena penulis menuliskannya tanpa jeda yang menurutnya terilhami oleh Jeet  Thayil berjudul Narcopolis.

Harapan saya membaca novel ini bisa menambah informasi kuliner atau ada keinginan rasa mencicipi juga. Sepertinya saya malah tidak hapal dengan segala jenis makanan atau citarasa yang diceritakan di novel ini. Tema yang diusung memang membagi sama porsinya tapi pembaca seperti saya nampaknya sudah berharap banyak.
Paling tidak kita memang diajak untuk mencicipi kekayaan kuliner nusantara yang jarang sekali ditemui dan itu harus kita hargai.

“Ia yang mengajarimu menghormati apa yang tumbuh dari tanah dan yang rebah di lantai lautan. Pada akhirnya,kita semua kembali ke tanah. Adakah pengabdian lebih mulia selain memberikan seluruh hidupmu kepada bumi?Dan adakah yang lebih nista ketimbang pembunuh makhluk-makhuk tak berdosa.” (Hal.271)

Iklan

2 thoughts on “Aruna dan Lidahnya – Laksmi Pamuntjak

    Erna said:
    19 November 2015 pukul 16:08

    Too much expected story yaa 🙂

      matureorchid responded:
      20 November 2015 pukul 08:53

      Iyaa..gw kira wiskulnya bisa menggugah selera :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s