Hotelicious: Trapped in the Hotel – Anna Swan

Posted on Updated on

Setelah saya membaca novel ini,saya baru mengerti seperti kenapa para security hotel itu kebanyakan rese’-rese’ atau para staf hotel yang senyumnya selalu ngepas,jadi tidak boleh berlebihan hehe…
Iya di novel Anna Swan ini membuat mata sedikit terbuka,karena penulis banyak mengisahkan pengalamannya secara tidak langsung saat bekerja di hotel baik Surabaya dan Bali.

Hotelicious

Selain itu gaya ceritanyapun tidak terkesan menggurui,bahkan kebanyakan cenderung unik dan lucu. Sedikit banyak pengalamannya di hotel membuat pembaca senang mengetahuinya.

Penulis bercerita bahwa ia bisa terjun di dunia perhotelan karena temannya dari Jepang,Takita. Tak begitu ia disapa,membuat Anna berani mencoba peruntungannya bersekolah lalu bercita-cita mendedikasikan ilmunya di hotel.

Yang pertama dilakukan tentu adalah bersekolah perhotelan. Ternyata bayangan Anna bahwa sekolah diperhotelan akan diajarkan hal-hal yang menyenangkan selayaknya kuliah umum,itu tidak sepenuhnya benar. Anna juga diajMasa training akhirnya tiba,Anna memutuskan bertraining di The Grand Beach Resort,hotel dengan fasilitas lengkap dan luas di Nusa Dua,Bali. Uniknya,sebelum wawancara training beralngsung Anna juga menginap di hotel mewah tersebut. Lagi-lagi ini berkat Tak. Tapi dari menginap tersebut ia dapat memberi pandangan sebagai seorang tamu hotel dan hal ini membantunya dalam wawancara kelak.arkan cara-cara membersihkan toilet dan mengepel lantai. Seperti babu bersertifikat :p

 

“Time is a circus,always packing up and moving away” – Ben Hecht (hal. 18)

 

Wawancara akhirnya dapat diselesaikan. Tak lama kemudian kabar bahagia itu datang. Anna diterima training di The Grand Beach Hotel. Senangnya,dan hanya sedikit yang bisa diterima disana. Anna bertemu sesama mahasiswa lain dari berbagai kota.

Worry gives a small thing a big shadow (hal. 50)

“You may delay,but time will not”-Benjamin Franklin (hal. 58)

Petualangan pertama dimulai dengan pencarian indekos. Dalam hal ini Anna juga bercerita kejadian khas anak kost yang lucu dan beberapa kriteria indekos yang ideal.
Lalu Anna mulai bercerita pengalamannya dalam berbicara bahasa inggris dengan berbagai tamu asing yang juga sama tak lancar berbahasa inggris,jadilah percakapan diantara mereka kurang dimengerti walhasil saling menerka apa yang dimaksud.

 

Kamus Jepang ala Anna:
¤ Tukang cuci : Kusabuni itunoda
¤ Pencopet : Saku kuraba
¤ Penjual keramik : Disini adaguchi
¤ Tawar menawar : Kitakasi murasaja
(Hal. 92)

Mengenai tip yang selalu diberikan tamu juga tak ketinggalan diceritakan. Bagaimana posisi staf hotel bisa menentukan besar kecilnya tip yang didapat.

“It’s much easier to be critical than to be correct”-Benjamin Disraeli (hal. 108)

 

Anna juga mendapat pelajaran dari hasil percobaannya untuk berupaya memanipulasi kehadiran pada pihak hotel agar bisa diijinkan berlibur bersama teman-temannya. Beruntung dari kejadian sebenarnya itu malah membuatnya selamat dari sesuatu yang buruk.

Life is like a confused teacher. First,she gives the test then teaches us the lesson. (Hal. 115)

Nah cerita soal security yang dibilang rese’ itupun menjadi perhatian Anna. Karena ia pun sering menjadi korban kerese’an mereka :D. Tapi karena Anna lebih cerdas,berulang kalipun security itupun dibuat mati kutu dengan ‘balasan’ Anna.

No one tests the depth of a river with both feet. (Hal. 154)

Seringnya soal kurang pengertian dalam bahasa masih menjadi kendala. Seorang teman Australia datang berkunjung dan Anna sebagai temannya ikut menemani. Selama jalan-jalan dan makan-makan itu ada kejadian yang membuat lucu. Dari bahasanya yang belum lancar sang teman berusaha berbicara soal pepes ikan tapi yang keluar dimulutnya malah pipis ikan 😀

O ya cinta lokasi sesama rekan kerja ternyata dialami oleh Anna. Dengan latar belakang pria yang berbeda dan terkesan biasa saja. Lalu sedikit cerita horor kamar hotel pun bisa jadi pengalaman menarik bagi Anna.

Intinya,cerita Anna di novel ini membuat saya terhibur. Kebanyakan ceritanya memang mengundang senyum. Penulis mampu mengejewantahkan pengalaman yang dialami menjadi sebuah cerita ringan dan cukup berkelas ibarat bertraveling keliling kota.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s