The Naked Traveler:1 Year-Round-the-World-Trip – Trinity

Posted on Updated on

Setiap cerita tentang traveling adalah suatu pengalaman yang mengasikkan. Apalagi yang diceritakan Trinity dalam bukunya yang terbaru The Naked Traveler:1 Year Round-the-World Trip. Bayangkan. Satu tahun kerjanya jalan-jalan ke berbagai negara lalu menceritakannya kepada pembaca setia dalam dua bagian buku. Hal yang membuat iri tentunya 😀 karena seperti yang dibilang penulis,dikala muda traveling bisa dilakukan tapi dana belum cukup,giliran sudah tidak muda lagi,dana sudah mencukupi tapi tenaga juga mulai ngos-ngosan.

TNT

Saya suka dengan gaya tulisan Trinity yang apa adanya,ia menuliskannya dengan gamblang mungkin karena pribadinya juga yang easy going. Segala macam cerita dan petualangannya bersama sahabatnya,Yasmin dari susah,sedih,sengsara,senang dan takjub tak luput ia paparkan.

Buku yang terbagi 2 bagian ini dibuat dengan penuh warna menambah nikmat dalam membaca.
Buku pertama bercerita bagaimana penulis mempacking segala macam kebutuhannya selama jalan-jalan hanya dalam satu ransel,praktis dan hemat tenaga.

Cerita diawali dari negeri Eropa,pengalamannya mengunjungi kamp konsentrasi Nazi,lalu bagaimana negara maju yang sangat tepat waktu dan menjadi ‘pelarian’ karena berhubungan dengan visa.

Berikutnya ke Brazil. Sebutan bahwa agama mereka sepak bola dan pantai ada benarnya,disana banyak pantai yang disuka penulis dan hampir semua orang bisa bermain sepakbola. Belum lagi bonusnya disana tak hanya wanitanya cantik dan sexy tapi laki-lakinya juga super ganteng.

Perjalanan penulis yang saya suka adalah saat di Chile. Jalan-jalan hingga ujung dunia,hiking ke taman nasional,penulis menceritakannya dengan indah,sejuk dan terawat semua seperti terbayarkan dengan jauh dan lamanya perjalanan mereka.

Perjalanan favorit selanjutnya tentu Peru karena penulis berhasil ke Machu Pichu,wah ini jalan-jalan yang bikin iri,siapa yang tak ingin kesana,padahal penulis juga susah payah dan ngos-ngosan untuk mencapai tempat ini :D. Keunikan lain di Peru juga tak ketinggalan diceritakan,memang sungguh terbaca indah dan membuat takjub belum lagi di Peru semua informasi mudah didapat dan terjangkau memudahkan bagi turis bila tersesat atau merasa tidak aman.

Nah,perjalanan ke Ekuador juga tak kalah hebat. Terutama di Galapagos. Serba bersih,serba terawat dan disiplin. Pemandangannya yang indah juga hewan-hewan penghuninya yang cuek dengan kehadiran orang-orang,sungguh serasi.

Cerita berlanjut di buku ke dua yakni ke Kolombia,negara yang dianggap tidak aman, belum lagi jaringan obat-obat terlarang yang menguasai. Tapi penulis malah penasaran dengan pusat kartel disana,ngeri-ngeri penasaran rasanya,penulis juga menyempatkan belajar salsa lho.
Ingin merasakan kota yang berbeda maka Cartagena adalah tempat yang juga dikunjungi selanjutnya,dimana dulu pelaku Korupsi Nazaruddin pernah ditangkap di kota ini.
Tapi nyatanya pengalaman seram yang dialami penulis membuatnya tetap merasa betah berada di Kolombia.

“Salah satu ciri hotel mahal:pegawainya cakep-cakep,tapi tamunya jelek-jelek!Hehehe!” (Hal. 30)

 

Kuba,negara dimana transportasi dan rupa kota masih seperti jaman dulu alias vintage,penulis menceritakan pengalamannya menginap di Casa Particular,yaitu tempat menginap yang dimiliki oleh warga Kuba,mirip homestay. Dan pengalamannya kena jebakan scam di Havana.

 

“Aktivitas antar manusia jelas lebih dihargai daripada pertemanan dunia maya” (hal. 69)

JamaikaKunjungan favorit lain adalah Jamaika yaitu saat mengunjungi rumah Bob Marley. Asyiknya mengetahui rumah pribadi,koleksi pribadi Bob Marley dengan turis lain dan menyanyikan lagu Bob,alhasil penulis ikut terharu karena antara bahagia dan syahdu.

Sedangkan di Meksiko yang membuat geleng-geleng kepala. Karena di sini penulis dan sahabatnya Yasmin harus konsisten berbohong demi sebuah perjalanan menggiurkan dan acara makan-makan yang enak. Belum lagi acara cap paspor yang membawa sengsara tidak efektif. Sengsara tapi membuat saya ikut tersenyum.

Di Guatemala Trinity dan Yasmin melakukan perjalanan selama 32 jam lho. Hebat. Perjalanan ajrut-ajrutan,melewati sungai hingga pakai acara deg-degan segala.

Dan selebihnya isi buku membagikan beberapa rekomendasi dari hostel,pantai-pantai indah,tempat wisata alam yang bagus dikunjungi,mengunjungi beberapa keajaiban dunia,kita jadi tahu bagaimana sih berhemat traveling ala Trinity atau bercerita bagaimana mereka beribadah selama ini di negara jauh dan sulit beradaptasi.

 

“Alam yang bagus banget biasanya susah dicapai” (hal. 156)

Bahkan soal belanja kebutuhan sehari-hari produk Indonesia sulit ditemukan di supermarket,terkadang malah berbeda penampakannya. Biarpun terlihat kuat,ternyata penulis juga pernah mengalami sakit juga,akibat perubahan musim dan lainnya. Grogi sebelum berangkat travelpun masih dialami 🙂

O ya,penulis tak lupa menceritakan sahabat setianya,Yasmin. Dari hal-hal yang berbeda secara sifat dan selera tapi mereka saling menguntungkan satu sama lain.

“If you want to go fast,go alone. If you want to go further,go together. – African Proverb (hal. 238)

 

Begitulah,sebagian cerita world trip Trinity. Rasanya pembaca bisa turut merasakan atmosfer jalan-jalan,kesusahan yang dihadapi dan tentunya menurut saya asyiknya mereka ber traveling. Santai tanpa harus terburu-buru dengan jadwal dan waktu. Pokoknya enjoy saja :))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s