Simple Miracles Doa dan Arwah – Ayu Utami

Posted on Updated on

Keajaiban adalah saat kita mencapai keselamatan (atau kebahagiaan) dengan cara yang tidak kita prediksi sebelumnya. Kadang keajsiban itu begitu sederhana sehingga kita tidak mau mengakuinya. (hal. 17)

Simple Miracles

Simple Miracles,buku yang ditulis untuk mengenang sang ibu yang telah tiada. Kali ini ia mengutak atik apa yang disebutnya sebagai spiritualisme kritis,bersikap spiritual tapi tidak mengkhianati nalar kritis.

Sikap menguji tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan penolakan semata-mata. Sikap terbuka tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan menutup diri. Tapi sikap mengagungkan ketidaktahuan adalah kebodohan yang sgt berbahaya. Spiritualisme kritis adah penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis. (hal.57)

Penulis mulai bercerita tentang takut akan kehilangan sosok ibu,sejak kecil ia selalu mengikuti kemana ibu melangkah. Ia takut ditinggal mati ibunya. Di sekolah ia seperti memiliki dua kepribadian. Ia tak ingin sekolah mengetahui kemanjaannya pada ibu,tapi bila sekolah usai ia akan sibuk mencari-cari sosok ibu.

Penulis mulai dikenalkan dengan cerita-cerita arwah,entah dari kakaknya ataupun dari bibi gemuk dan bibi kurus. Sampai suatu hari lahirlah seorang bayi ditengah-tengah keluarga mereka,seorang keponakan penulis, Bonifacius namanya.

Setiap kelahiran tentu saja sebuah keajaiban. Aneh memang. Ada miliaran manusia di muka bumi,tetapi setiap kelahiran satu bayi adalah keajaiban. (hal. 25)

Boni sejak kecil sudah memperlihatkan gelagat bahwa ia mampu melihat makhluk yang tak kasat mata. Di sekolah ia bisa melihat arwah temannya yang kesepian tak ada teman. Boni berperilaku apa adanya dengan celotehannya yang tanpa halangan. Boni memang tak berbohong. Ia pernah melihat arwah ayah penulis yang baru saja tiada,lengkap dengan setelan yang disandangnya.

Lalu cerita bergulir tentang kepercayaan dan ketidakpercayaan akan makhluk halus,arwah bahkan ari-ari pada bayi. Intinya bagaimana sikap penulis pada hal-hal semacam itu,antara yang biasa saja,bertentangan atau ia lebih memilih dengan kemampuan berpikirnya.

 

Ia berkata,ada waktunya kepasrahan adalah jalan terbaik. (hal. 149)

Bagian cerita terakhir penulis menceritakan sosok ibunya yang mulai lemah karena sakit. Kenangannya bersama ibu,bagaimana ia memandang segala yang telah dilakukan ibu.
Disaat penulis menjadi agak religius saat mendekati kepergian ibu.

 

Jika kau selalu belajar rela. Dan bersyukur,kau bisa menjadi tua dengan indah.  (hal. 163)

Ya,buku ini merupakan kecintaan penulis pada ibunya. Segala kisah yang melatar belakangi penulis dan fenomena yang ia temui di rangkai dalam sebuah cerita bentuk spiritual,spiritual menurut Ayu Utami. Mana yang ia imani dan mana yang perlu ia kritisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s