Tabula Rasa – Ratih Kumala

Posted on Updated on

Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa,aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari perjalanannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku. ( hal. 189)

Tabula Rasa

Tabula Rasa dari bahasa latin artinya kertas kosong. Menurut fiosofi John Locke tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa “kertas kosong” tanpa aturan untuk memroses data, dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya. (Wikipedia Indonesia)

Akhirnya saya kesampaian juga baca novel ini setelah 10 tahun kembali cetak ulang. Tabula Rasa karya Ratih Kumala ini menceritakan dua tokoh yakni Galih dan Raras.
Novelnya terdiri atas 4 bagian.

In Memoriam Kresnaya.
Dalam bagian ini menceritakan sosok Galih seorang putra diplomat yang ikut ayahnya bertugas di Rusia.
Suatu hari Galih berkenalan dengan seorang wanita yang sedang melukis di Kremlin,Kresnaya namanya. Dari perkenalan pertama tersebut hubungan mereka berlanjut ke hubungan kekasih.
Namun karena keadaan Rusia di masa itu sedang genting. Maka pemerintah Indonesia memerintahkan pejabat diplomat di Rusia untuk pulang ke Indonesia. Maka Galih berpisah sementara dengan Kresnaya.

 

Cinta adalah letupan perasaan yang paling aneh dan tidak terjelaskan,kesemuanya melebur menjadi satu. Ada tarik menarik sekaligus tolak menolak. Seperti atom,bagian terkecil kimiawi dari suatu elemen yang jika dipisah-pisahkan menjadi tidak kasat mata. Kau dan aku masing-masing terdiri dari tiga bagian. Elektron,proton dan neutron. ( hal. 42)

Nasib Kresnaya sepeninggal Galih pun kurang beruntung. Ia dan ayahnya akhirnya tewas dibunuh. Galih merasa sangat kehilangan ‘menara’ nya. Ia bersedih dan berusaha menata puing-puing hatinya.

In Memoriam Violet.
Raras merupakan anak kembar,saudara kembarnya bernama Rimbang. Walau Raras masih kecil dan baru mengenal mana laki-laki dan perempuan. Ia tahu ada yang tak beres dengan keadaan Rimbang pada saat itu,sayang Raras akhirnya hanya dapat menerima dan menatap kematian Rimbang tanpa air mata mengalir.

 

Kematian adalah apa yang paling titik. ‘Apa’ dan bukan ‘alpa’ sebab ia sangat berisi dan tidak kosong atau akhir. Ia hanya salah satu tanda baca,titik yang paling titik. Jeda. Kematian adalah pintu dari segala sendiri dan jalan dari awalnya akhir. Kematian adalah antara. Kematian warnanya abu-abu,lalu hitam,lalu ungu. Kemudian warnanya temaram. Berbau kembang kamboja dan sedap malam. ( hal. 99)

Selanjutnya Raras mulai mengenal Violet seorang pecandu narkoba. Raras menjadi sosok yang menyukai Violet,ia menyukai wanita ini dengan segala kekurangannya. Raras mencintainya,ia menjadi lesbian yang tak berani mengatakan isi hatinya pada Violet. Sampai maut menjemput Violet. Raras kembali bersedih.

 

“Jangan menjadi sendiri,Ras. Kamu harus bersama orang yang kamu sayangi agar ada yang mendoakanmu. Dan,setidaknya kamu tahu bahwa saat kau pergi ada yang sedih dan menangisimu. Jika seseorang merasa kehilanganmu,berarti kamu berarti. ” ( hal. 101)

Raras mengenal Galih sebagai dosen di kampusnya. Merekapun saling berkenalan. Galih semakin baik menata hatinya,dengan melihat Raras ia seperti kembali menemukan ‘menara’ nya yang hilang.
Mereka saling bercerita tentang bacaan dan lukisan. Dari mulut Galih mengalirlah cerita Kresnaya. Hubungan terus berlanjut.

 

Metanoia atau perubahan pikiran membuat seseorang menjadi lebih kuat sebab ia berarti telah melepaskan dan memaafkan segala amarah pada dirinya sendiri ataupun pada orang lain untuk kedamaian batin. ( hal. 137)

Bagian terakhir novel ini Ego Distonik dan Ego Sintonik.
Raras merasa bimbang dengan dirinya sendiri. Lambat laun ia harus memilih untuk tetap menjadi lesbian atau setia dengan lelaki saja,terutama dengan Galih disaat yang bersamaan kini ada janin hidup dalam perutnya. Sedangkan Galih sudah merasa mantap dengan Raras. Tak ada keraguan dihatinya.

 

Kau siap menjadi pembawa generasi bagi manusia,dan surga ada di telapak kakimu. ( hal. 180)

Itulah jalan cerita yang saya cerna dari membaca novel ini. Sebenarnya dalam ceritanya penulis dengan asyiknya merubah tokoh aku dan kamu dari sisi yang berganti-ganti begitu juga rentang waktu yang maju mundur.

Saya rasa novel ini merupakan novel psikologis. Dimana tokoh utamanya Raras yang bimbang tak mampu memilih jalan hidup asmaranya. Sebegitu beratnya ia memutuskan mempertimbangkan segala keuntungan dan kerugian yang akan dialaminya apabila tetap bersama Galih atau bagaimana nanti hidupnya bahwa pilihan itu bisa saja salah.

Tak heran apabila novel ini membawa kemenangan ketiga pada sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DJK) tahun 2003. Isinya mungkin tak seberapa tapi bila dicerna lebih jauh,karya sastra ini memang pantas menang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s