Malaikat Lereng Tidar – Remy Silado

Posted on Updated on

Dalam hidup manusia sejatinya akan selalu dikelilingi oleh masalah,masalah tak berkesudahan. Dalam perilaku manusia yang berpikir lurus dan jujur maka tak luput dari gangguan luar yang mengusik hidup. Begitulah,gambaran cerita dari novel yang telah saya baca ini. Malaikat Lereng Tidar karya Remy Silado membuat pembaca terpesona dengan kisah dari Jez Maliku dan Toemirah serta tersihir oleh tutur bahasa yang disajikan penulis dengan sangat piawai.

Malaikat Lereng Tidar

Ini tentang sebuah keluarga,tentang bagaimana membela martabat kaum wanita terutama seorang istri yang ditinggal bertugas,dalam cerita ini penulis selalu menyisipkan sebuah renungan untuk kita tentang nilai-nilai luhur dan kuasa Tuhan.

Martabat tumbuh barangkali

Antara padi yang tidak mati

Berebut tempat dengan ilalang

Sama-sama ingin menyatakan ego

(Hal. 18)

Seorang pemuda bernama Jehezkiel Tambajong atau biasa dikenal sebagai Jez Maliku,Maliku adalah sebuah nama desa di Minahasa tempat kelahiran Jez. Jez digembleng menjadi seorang marsose,tentara didikan Belanda yang kemudian di latih di kota Magelang,sebagai seorang tentara atas Belanda kemudian dikirim ke Aceh untuk menangkap sosok Francois(seorang anggota tentara dari Belanda yang membelot ke pihak Aceh) dan kembali pada tujuan yaitu memenangkan peperangan.

Karakter Jez selalu berbeda dengan kawan-kawan lain. Jez sosok pemberani dan bertanggung jawab serta sederhana dalam pandangan hidup,berkat didikan dari keluarganya. Dikala ia menghadapi musuh sendiri diantara teman-temannya Jez selalu lebih kuat dan lebih sabar.

Hal inipun berlaku pada percintaannya,saat di Magelang inilah ia terpesona oleh sosok penjaga Waroeng Idjo yakni Toemirah. Toemirah adalah seorang gadis anak semata wayang dari pemilik warung ayahnya Amos Ngatiman dan ibunya Soetirah. Mereka mengelola sebuah warung beraneka minuman segar.

Toemirahpun sebelumnya mengalami mimpi yang mendekati sebuah kenyataan bahwa dalam mimpinya ia bertemu dengan sosok pemuda yang mirip sekali dengan Jez. Maka,pucuk dicinta ulampun tiba. Jez yang sedang mampir di Waroeng Idjo setelah kebaktian gerejanya di hari minggu dimana Toemirah kebetulan berjaga di hari itu,keduanya merasa sudah terhubung satu sama lain.

Sebab cinta selalu segera membenarkan segala kemauan dan selalu tidak segera menyalahkan segala keinginan. Cinta segera membayangkan kesenangan dan tidak segera melihat kesusahan. Cinta segera memikirkan kebahagiaan dan tidak segera memperhitungkan kesengsaraan. Cinta segera mengatakan aman dan tak segera mengatakan bahaya. (Hal. 129)

Toemirah dengan gayanya yang malu-malu dan Jez yang berani dengan itikad baiknya berusaha mendapatkan hati Toemirah dan bermaksud segera meminangnya sebelum ia berangkat ke Aceh untuk bertugas.
Namun sebenanya di balik kesenangan mereka ada tokoh antagonis yang akan selalu mengikuti perjalanan hidup mereka. Kesengsaraan mereka yang rasanya tak henti-henti datang menyambut.

Sosok Soembino adalah lelaki tua kontet bertampang prongos tapi banyak uang,banyak rumah dan banyak istri,sekarang sudah delapan istrinya. Kali ini Soembino juga berusaha mendapatkan hati Toemirah untuk dijadikan isri kesembilan. Walaupun kini Toemirah sudah menikah,bahkan sudah memiliki anak. Soembino rela melakukan apapun demi mendapatkannya. Rela dalam artian yang jahat,diluar naluri dan terbilang licik.

Apa daya,segala upaya Soembino hanya demi mendapatkan Toemirah saat ditinggal Jez ke Aceh membuat keluarga Ngatiman jungkir balik tak keruan. Tapi tetap selalu sabar dan berhati lurus dan inipun tak luput dari seorang baik yang bernama JP Emeis,sebenarnya dia adalah seorang guru bahasa Jez tapi nampaknya Jez telah percaya pada Emeis begitupun sebaliknya. Sedangkan Jez di Aceh pun kurang lebih sama,hidupnya dalam perang betul-betul diuji saat ia malah tertangkap oleh pasukan Francois dan dijebloskan ke dalam lubang kotor dan sempit serta dijadikan tawanan.

Cinta itu ibarat air sungai dan air laut

Sungai pasti mengalir ke laut

Laut yang asin tak pernah ragu menerima sungai yang tawar

(Hal. 159)

Sekali lagi kita dibuat tak henti membaca kisah-kisah tokoh dalam novel ini terutama kelakuan Soembino dan ke dua pesuruhnya yakni Bujel dan Cowek. Saya semakin penasaran tindakan apalagi yang akan ditempuh Soembino lalu bagaimana nasib Jez kemudian hari.

Penulis selalu menyisipkan sebuah puisi yang menarik yang diambil dari kata terakhir dalam paragraf cerita. Belum lagi detil penulis menyematkan informasi dari setiap kejadian yang diyakininya berasal dari sumber terpercaya.

Keseluruhan setelah membaca novel ini,kita dapat memetik sebuah pemahaman dari apa yang dikisahkan. Cerita perjuangan,emosi yang dibuat,penggalan sejarah serta harkat dan martabat manusia ditulis dan dituturkan dengan apik tanpa keraguan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s