Amba – Laksmi Pamuntjak

Posted on Updated on

Pulau Buru. Tapol. Peristiwa G30SPKI. Pengasingan. Roman.
Itulah yang dihadirkan dalam sebuah novel Amba karya Laksmi Pamuntjak ini. Siapa yang tak kenal dengan Pulau Buru dan pengasingan hidup para tahanan politik dijamannya. Banyak cerita tentang Pulau Buru,tapi Laksmi tak hanya menuturkan kisah kehidupan pahit di Pulau Buru tapi juga gelora asmara Amba dan Bhisma Rashad yang tak sampai.

Amba

“Apabila kita bertanya pada seorang ksatria tua,apa keberanian yang paling purba,dia akan menjawab:kewajiban”

Amba di gambarkan bukanlah seorang gadis yang pada umumnya,tentunya ia memiliki kecerdasan tinggi. Sebagai perempuan ia tak ingin begitu saja menikah kemudian mengabdi pada keluarga lalu melahirkan dan pada akhirnya hanya berkutat di dapur. Amba seorang perempuan idealis dari sebuah dusun di Kadipura,perempuan keras yang berbeda pandangan dengan orangtuanya. Ia harus melanjutkan sekolahnya hingga sarjana,maka ia berkuliah di Universitas Gadjah Mada,Jogjakarta jurusan sastra.

 

“Disatu sisi kecantikan adalah pemberi hidup,menyanjung. Dis sisi lain ia terkutuk,menakutkan.”

Dalam kehidupan asmaranya ia akhirnya tunduk oleh orangtuanya saat dikenalkan dengan seorang pemuda bernama Salwani Munir. Dengan Salwa,Amba merasa dicintai dengan tulus sebagaimana perempuan inginkan. Amba dihujani puisi dan kalimat-kalimat menenangkan dari Salwa. Salwapun seorang pemuda yang sopan terhadap orangtua dan keluarga Amba,santun terhadap kekasihnya.

Bahkan belakangan,Salwa adalah seorang yang baik hati walaupun setelah dikhianati cintanya oleh Amba. Salwa merasa tak ingin sisa hidupnya menanggung beban dan dendam pada mantan kekasihnya tersebut.

Hati Amba pada akhirnya tertambat dengan seorang pria yang berprofesi sebagai dokter bernama Bhisma Rashad saat ia mengabdikan diri sebagai penerjemah di sebuah Rumah Sakit di Kediri. Dengan Bhisma,cintanya merasa berbeda. Amba menemukan jati dirinya,ia merasa dengan Bhismalah cinta yang sebenarnya.

 

“Aku menangis untuk kedua orangtuaku,untuk kakak-kakakku perempuan yang tak diberi izin merantau,untuk teman erat disekolahku,Chairil,yang kutitipi sepedaku dan untuk Tony yang tak punya nasib baikku.”

Tapi kisah mereka terhenti oleh gejolak politik dimasa itu. Hidup mereka terpisah saat Gestapu terjadi di Jogjakarta. Bhisma ditahan kemudian ia dibuang ke pulau buru bersama tahanan lain. Sedangkan Amba tak tahu harus mencari kemana dengan janin yang dikandungnya.

Beruntung ia ‘diselamatkan’ oleh Adalhard yang bersedia menjadi suami dan ayah bagi Srikandi. Namun hati Amba tak pernah tenang,memikirkan nasib belahan jiwanya. 40 tahun berlalu. Setelah kepergian Adalhard,ia memutuskan mencari Bhisma di Pulau Buru dengan bantuan dari seorang kenalan mantan tapol juga,Zulfikar dan seorang teman lain bernama Samuel.

Maka sejak Amba menginjakkan kakinya di pulau tersebut,banyak terkuak cerita yang sebenarnya dari kekasihnya tersebut. Bhisma bercerita kisah hidupnya selama di pengasingan. Amba membayangkan bagaimana kondisi pada saat Bhisma berada disana. Kesepian tapi juga setia.

Awalnya saya merasa bosan dengan beberapa cerita di buku ini tapi pada akhirnya saya menyenangi pada bagian dimana Bisma sebagai orang yang pernah mengalami kejadian di pulau Buru menuliskan kisah nya dalam pucuk-pucuk surat yang ditujukan kepada Amba.

Diakui,penulis bertutur dengan detil yang pas walau kadang membuat saya bosan karena berlama-lama dengan dialog atau cerita-cerita yang panjang yang kadang jauh masuknya dengan inti ceritanya.

Kesimpulan yang didapat novel ini memang sebenarnya adalah cerita roman tentang pencarian cinta,kasih tak sampai dengan beberapa fakta dari kisah seorang tahanan politik di pulau Buru. Kisah romansa berlatar sejarah.

Iklan

2 thoughts on “Amba – Laksmi Pamuntjak

    Ernawati said:
    14 Oktober 2014 pukul 20:11

    Bagus gak sih? Belum baca nih.

      matureorchid responded:
      14 Oktober 2014 pukul 20:24

      Belum baca ya…bagusnya pas Bhisma menceritakan kisahnya di pulau Buru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s