The Fault In Our Stars

Posted on Updated on

TFIOS

Saya belum pernah membaca novel The Fault In Our Stars karya John Green tapi saya semakin penasaran terhadap filmnya yang ‘katanya’ jalan ceritanya bukan hanya berisi kisah mengharukan penderita kanker tapi bagaimana mengatasi kehidupan mereka yang masih muda saat menghadapi penyakit mematikan.

Ya,ini adalah sebuah film mempertahankan hidup,berjuang melawan kanker yang diderita oleh kaum remaja dimana semestinya masa hidupnya lebih banyak bergaul,bermain dengan teman-teman sebayanya dan mencoba sesuatu hal yang baru.

 

That’s a thing about pain. It demands to be felt.

Hazel Grace (Shailene Woodland) Seorang remaja yang didiagnosa menderita kanker thyroid sejak usia 13 tahun dan telah menyebar ke paru-paru. Yang membuat paru-parunya terisi air dan membuatnya sulit bernafas. Maka,jadilah Hazel Grace kemana-mana selalu membawa obatnya dengan tabung oksigen serta selang yang melingkar di hidungnya. Obat yang hanya memperpanjang masa hidupnya.

Sedangkan Augustus Waters (Ansel Elgort) sebenarnya telah sembuh dari kankernya setelah mengorbankan salahsatu kakinya,sejak saat itu ia menggunakan kaki palsu. Ternyata seiring waktu saat kebersamaan dengan Hazel,kanker tersebut kembali menyebar ke seluruh tubuh dan jantungnya.

Dalam suatu sesi pertemuan antar penderita kanker,Hazel berpapasan dengan Augustus Waters. Dari kejadian ini Augustus semakin menyukai sosok Hazel. Dari kebersamaan mereka yang tidak lama,mereka membuat hidup menjadi hal yang tak sulit. Mereka saling berbagi,saling berbicara tentang kematian dan prosesi seperti apa kelak yang mereka inginkan,dan siapa-siapa yang akan memberi kesan terhadap mereka berdua. Simak adegan saat Hazel membaca surat dari Augustus,sweet ;))

 

…..Hazel knows the truth. She didn’t want a million admirers, she just wanted one. And she got it. Maybe she wasn’t loved widely, but she was loved deeply. And isn’t that more than most of us get? When Hazel was sick, I knew I was dying, but I didn’t wanna say so. She was in the ICU when I snuck in for ten minutes and I just sat with her before I got caught. Her eyes were closed, her skin pale, but her hands were still her hands, still warm, and her nails were painted this dark blue black color, and… I just held them. And I willed myself to imagine a world without us and what a worthless world that would be. She’s so beautiful. You don’t get tired of looking at her. You never worry if she’s smarter than you, ’cause you know she is. She’s funny without ever being mean. I love her. God, I love her, I’m so lucky to love her, Van Houten. You don’t get to choose if you get hurt in this world, but you do have a say in who hurts you. And I like my choices. I hope she likes hers. Okay, Hazel Grace?

I fell in love with him the way you fall asleep: Slowly, and then all at once.

Sebenarnya,sosok Augustus adalah hal yang membuat saya kagum,ia tetaplah seorang pejuang. Ia nyaris tak pernah patah semangat di saat-saat akhirnya,positif dan selalu terlihat menyenangkan. Belum lagi kecintaannya yag besar terhadap Hazel Grace (begitu ia selalu menyapa),entah siapa yang lebih beruntug sebenanya dalam hal ini,keduanya saling memiliki  🙂

 

….. I’m not a mathematician, but I do know this: There are infinite numbers between zero and one. There’s point one, point one two, point one one two, and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger set of infinite numbers between zero and two or between zero and a million. Some infinities are simply bigger than other infinities. A writer that we used to like taught us that. You know, I want more numbers than I’m likely to get, and God, do I want more days for Augustus Waters than what he got. But Gus, my love, I can not tell you how thankful I am, for our little infinity. You gave me a forever, within the numbered days. And for that I am… I am eternally grateful. I love you so much. 

I am in love with you. And I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed. And that one day all our labor will be returned to dust. And I know that the sun will swallow the only earth we will ever have. And I am in love with you.

Sebenarnya kisah pejuang kanker seperti ini memang tak asing,tapi ternyata pengidap kanker remaja membuat ceritanya semakin menarik ditambah akting kedua pemain yang sesuai dan apa adanya yang mampu meremukkan hati 🙂 dan memberikan kesan mendalam. O ya….soundtrack film ini juga enak dinikmati.

Funerals, I’ve decided, are not for the dead. They are for the living.

Iklan

2 thoughts on “The Fault In Our Stars

    Ernawati said:
    25 September 2014 pukul 15:19

    Filmnya remaja banget yaa 🙂

      matureorchid responded:
      25 September 2014 pukul 16:27

      Mungkin,dari novelnya begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s