9 Dari Nadira – Leila S. Chudori

Posted on Updated on

Menurut penulis,Leila S. Chudori novel ini adalah sebuah kumpulan cerita pendek. Saya setuju ini adalah kumpulan cerpen yang berkesinambungan walaupun ceritanya dibuat dengan jeda waktu lama. Dan novel ini adalah cerita tragedi sebuah keluarga. Saya merasa kagum dengan penulisnya yang dapat mempertahankan konsistensi jalan cerita.
9 dari Nadira berisikan 9 jalan cerita dengan sosok Nadira dan segala yang berada di sekelilingnya.

9 Dari Nadira

Mencari Seikat Seruni.
Nadira menemukan ibunya,Kemala Yunus dalam keadaan membiru tak bernyawa dan mulut berbusa dalam kamarnya. Yu Nina yang sangat mudah menitikkan air mata,langsung menangis melolong sejadi-jadinya, lalu kang Arya memeluk Kemala. Sedangkan Nadira,ia lebih memilih hal yang pragmatis. Menyiapkan perlengkapan untuk yasinan dan tentunya ia berusaha mencari seikat kembang seruni putih. Nadira sadar ia tak dapat menangis dengan mudah,tapi saat ia mencari kembang seruni dengan atasannya,Tara maka tumpahlah segala sesak kesedihan di dada.

Dalam bab ini juga diceritakan isi buku harian Kemala. Pertemuannya pertama kali dengan Bram Suwandi yang sudah membuatnya takluk. Lalu akhirmya mereka memutuskan menikah hingga dikaruniai tiga putra putri tanpa kehadiran keluarga besar Bram yang berlatarkan NU (Nahdhatul Ulama). Nina sebagai anak sulung yang ingin mendapatkan pengakuan,Arya lelaki kedua dalam setiap perilakunya yang bandel dan mengundang tawa dan Nadira bungsu yang selalu pragmatis dengan rambut awut-awutan.

Nina dan Nadira.
Nina dan Nadira adalah dua sosok yang berbeda,perilaku yang tak sama dan kegemaran yang bertolak belakang. Nina lebih serius dibanding Nadira,mungkin karena dia anak sulung lalu merasa bertanggung jawab terhadap adik-adiknya.
Tapi Kemala sebagai ibunya selalu berpikir bijak dan bertindak objektif terhadap anak-anaknya tanpa membeda-bedakan perlakuan yang satu dengan lainnya.

 

“Untuk saya,ibu adalah perwujudan puisi Chairil Anwar. Ibu akan hidup 1000 tahun lagi…”(Hal. 57)

Nina memiliki perasaan berat terhadap Nadira menyangkut masa lalunya,masa kecil mereka. Sulit bagi Nina untuk meminta maaf pada Nadira. Apalagi mengingat hal yang berhubungan dengan Gilang Sukma,suaminya. Dimana dulu,hubungan mereka sebenarnya mendapat penolakan dari adik-adiknya karena masa lalu Gilang yang berstatus duda.

 

“Kenapa Nina selalu harus merasa bertanggung jawab atas semua kejadian?”
Mungkin karena dia merasa anak sulung…”Kataku sambil mengelu-elus luka Nadira. (Hal. 60)

 

Melukis Langit.
Kini hanya berdua saja dalam rumah itu,Nadira dan ayahnya. Arya lebih memilih berada di hutan,dengan alasan tenaga dan pikirannya lebih dibutuhkan disana. Sedangkan Nina tentunya lebih memilih untuk tidak berada di rumah,ia kini menetap di New York,Amerika.

Hanya Nadira yang memperhatikan ayahnya yang kini imsomnia,ayahnya yang masih saja mengingat masa lalunya kala jaya. Nadira masih dengan kebiasaannya bila sedang tak tahu apa yang harus dilakukan,membenamkan kepalanya dalam bak mandi. Kebiasaan ini berkaitan dengan masa kecilnya yang pernah dihukum dengan mencelupkan kepalanya di jamban berisi air kencing.

Tasbih.
“Saya sering bermimpi,saya celentang…tidak bergerak,tidak berbicara apa-apa. Hanya celentang di lubang kubur. Saya merasa tenang disana. Dan saya selalu menyesal setiap kali bangun dari mimpi itu. ” (Hal. 101)

Nadira masih saja betah meringkuk di bawah kolong meja kerjanya setelah kepergian ibunya, sambil mulutnya komat kamit. Ia masih sulit tidur dan bermimpi aneh.
Atasannya Utara Bayu menaruh simpati,Tara berharap agar Nadira cuti dari pekerjaan mengistirahatkan dirinya sendiri. Namun yang dilakukan Nadira adalah,ia lebih senang berkutat dengan pekerjaannya,apa yang ditugaskan kepadanya sebagai seorang jurnalis selalu ia terima tanpa penolakan.

Tara pernah menemui Bram dirumahnya sekedar menanyakan seuntai tasbih yang pernah dimiliki ibu Nadira dulu untuk diberikan kembali pada Nadira agar ia merasa lebih tenang,karena menurut cerita Nadira tasbih pemberian kakeknya,ayah Bram tersebut kini entah berada dimana. Dan menurut Bram,tasbih itu diberikan pada Nina dengan pertimbangan Nina lebih membutuhkan.

“Aku tak pernah paham kenapa ibu menginginkan bunga seruni yang mengantarnya ke rumahnya yang terakhir. ” (Hal. 119)

Lalu Nadira berkesempatan mewawancarai seorang kriminal sekaligus psikiater cerdas dan pembunuh lihai,bernama bapak X. Dan ditengah-tengah tanya jawab tersebut Nadira merasa terjebak,bapak X mengetahui apa yang menjadi permasalahannya selama ini dengan kakaknya,bapak X juga tahu apa yang dirisaukan Nadiratentang apa  yang  selama ini menjadi alasan ibunya untuk bunuh diri dan hal inilah yang menyinggung perasaan Nadira.

Ciuman Terpanjang.
Hidup Nadira kini berseri-seri,hatinya selalu merah jambu. Itu karena sosok Niko Yuliar,Niko yang mengangkatnya dari ‘lubang kubur’,Niko lah yang membuat Nadira kembali menata hidupnya,senyumnya mengembang terus,nyawanya telah kembali. Nadira memutuskan menerima pinangan Niko.

 

“Pernahkah kau merasa kau ingin segera saja bersatu bersama tanah;karena ingin bersatu dengan segala zat yang ada di dalamnya. Bukankah kitab-kitab suci mengatakan bahwa kita semua diciptakan dari tanah?”(Hal 149)

 

Namun Arya jauh dalam hatinya ragu akan sosok Niko,ia tak ingin kejadian terulang kembali seperti kejadian yang dialami Nina.

 

“Meski aku tidak rajin beribadah,aku sangat mencintaiMu. Aku selalu kangen menyebut namaMu setiap kali aku meminta perlindungan bagi Nina. Aku ingin dia bahagia. (Hal. 156)

Tidak hanya Arya,Tara tentu saja merasa keberatan,namun ia tak mampu mencegah kebahagiaan Nadira. Tara hanya mampu menatap dari kejauhan…

Gunung-gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
Protes-protes yang terpendam,terhimpit dibawah tilam
(Sajak Sebatang Lisong-Rendra) (hal 157)

Mengingat ibu
Aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu,
Aku percaya akan kebaikan hati manusia
Melihat photo ibu,aku mewarisi naluri kejadian alam semesta..
(Sajak Ibunda-Rendra) (hal. 161)

Kirana.
Nadira kini telah memiliki Jody putra semata wayang dengan Niko. Tapi kini diantara mereka sudah tak ada lagi rasa cinta walaupun bagi Nadira sebenarnya tak ingin melepas Niko,ia sedih dan merasa sendiri…

Sebilah Pisau.
Nadira dalam lingkup kerjanya di majalah Tera adalah sosok yang tak ingin bersosialisasi,tak ingin membaur dengan keramaian. Nadira selalu menggenggam buku di tangannya,lalu ia akan asyik sendiri menekuri bacaannya.

“Aku sungguh tak bisa meraba dunia Nadira” (hal. 188)

“Tiba-tiba aku tak paham,kenapa hatiku seperti ikut ditarik oleh sebuah batu besar dan perlahan melayang ke dasar danau. ” (Hal. 192)

Kris,hanya bisa menggoreskan sketsa Nadira,wajahnya,kakinya yang selalu terlihat menjulur dengan sepatu ketsnya di bawah meja kerjanya. Suatu waktu ia meminta untuk menggambarkan sketsa kepalan tangannya,setelah ia memukul bapak X. Diluar dugaan,Kris ikut dibawa Nadira ke makam ibunya dan disana ia meletakkan sketsa kepalan tangan di atas makam ibunya.

 

“Aku akan membelikan kamu sebatang sisir,kataku memperbaiki rambutnya yg awut-awutan. ” (Hal. 200)

“Aku mulai percaya,nadira menyelamatkan dirinya dengan zikir yangg didengarnya sejak ia masih kecil. Kali ini hatiku pecah dan sekuat tenaga aku melawan air mata. Sesungguhnya nadira tengah berjuang melawan keinginan untuk mati.” (Hal. 204)

 

Kris pun tahu bagaimana hancurnya hati Tara saat Nadira memutuskan untuk menikah dengan Niko.

 

“Dan aku melihat aliran darah dari matanya yg mengalir berkelok-kelok membasahi seluruh lantai lobi” (Hal. 209)

Utara Bayu.
Aryati dan Triyanto Abimanyu memiliki dua orang anak yakni Utari Dini dan Utara Bayu. Tari sudah berkeluarga dan juga telah memiliki anak. Aryati dan Triyanto khawatir terhadap status Tara yang masih saja sendiri.

Di luar itu,ada seorang gadis yang juga selama ini memperhatikan Tara dengan kecintaan,dialah Kara Novena,jurnalis senior diatas Nadira. Venapun tahu sejak kedatangan Nadira di kantor tersebut,perubahan sikap itu ada pada Tara,ia bersemangat dalam bekerja dan membangun ide-ide bagi rekan-rekannya.

Kini Nadira telah berpisah dengan Niko dan berada di Kanada. Tara tak ingin merasa harus memiliki Nadira,karena sepanjang yang ia tahu Nadirapun selama ini tak ada rasa yang sama terhadap Tara. Maka Tara lebih baik mengenal lebih dalam terhadap Vena.

At Pedder Bay.
“Kita membutuhkan sebuah jeda dari hiruk pikuk aliran hidup kita.” (Hal. 238)

Nadira ditemani bersama Marc,temannya kala ia pernah kuliah di Kanada dulu. Kini mereka bertemu kembali dengan situasi berbeda,cerita yang lebih kompleks.

Sebuah berita bahagia datang dari Arya,ia mengabarkan bahwa ia akan segera menikah dengan gadis pilihannya,Amalia. Nadira diminta untuk datang ke Jakarta. Begitu juga Nina yang mengabarkan kerisauannya soal pernikahan Arya,ia juga meminta kedatangan Nadira untuk menyelesaikan apa yang selama ini tertunda terhadap Tara.

Nadirapun mengakui selama ini apa yang ia cari hanyalah pelariannya semata,ternyata selalu ada tempat di hatinya untuk Tara.

Sekali lagi cerita yang ditulis Leila ini tidak mengecewakan dan pasti tidak membosankan. Jalinan cerita yang dirangkai cukup relevan dan menarik mengingat yang ditulis Leila dari satu judul ke cerita lain memiliki jeda yang lama. Saya pribadi menyukai cerita pertama,kedua dan ke delapan 🙂

Iklan

2 thoughts on “9 Dari Nadira – Leila S. Chudori

    Ernawati said:
    26 Juni 2014 pukul 07:24

    Waah ceritanya berbobot ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s