Maya – Ayu Utami

Posted on Updated on

Sejak dulu saat pertamakali membaca novel Saman,saya sudah langsung jatuh hati dengan gaya penulisan seorang Ayu Utami. Penuturannya dalam bercerita terkesan unik,absurd dan berwawasan. Walaupun tulisannya selalu ada bahasa erotis tapi itulah ciri Ayu,seperti yang diungkapkan pada situsnya bahwa ia hanya menggunakan kebebasan dalam menulis tanpa harus menghaluskan suatu bahasa atau istilah.
Dan menurut saya konsistensi dalam menulis sebuah karya memang dibutuhkan,apalagi seri novel Bilangan Fu yang ia buat akan terus berlanjut hingga 12 seri. Kita tunggu.

Pada novel Maya kali ini masih melanjutkan seri Bilangan Fu tapi juga menghubungkan kisah Saman dan Larung pada novel sebelumnya. Maka dapatlah kita telusuri bahwa novel Maya kali ini adalah perpaduan sejarah masa lalu yakni orde baru,reformasi dan teka-teki sebuah tanda.

Ayu Utami - Maya (Seri Bilangan Fu)
Ayu Utami – Maya (Seri Bilangan Fu)

Maya terbagi atas tiga bagian yakni Kini,Dulu dan Kelak.

Kini
Bercerita tokoh Yasmin yang menerima surat dari kekasih rahasianya,Saman  setelah kepergiannya untuk diserahkan kepada ayah Saman dan dalam suratnya terdapat sebutir batu mulia. Maka Yasmin berinisiatif mengunjungi padepokan Suhubudi yakni ayah Parang Jati untuk berkonsultasi dengan membawa serta putrinya,Samantha. Dimana padepokan tersebut dulu Saman saat masih menjadi Frater Wisanggeni juga pernah mengunjungi tempat ini.

Disana Yasmin sempat disuguhkan sendratari Ramayana yang dimainkan oleh klan Saduki dalam wujud bayangan yakni makhluk yang jauh dari keindahan. Dari sana kita akan mengetahui sosok Maya. Maya dan rekan mainnya dalam sendratari,Gatoloco. Sungguh kita sudah sepatutnya merasa bersyukur dengan apa yang kita miliki hingga saat ini. Kesempurnaan memang hanya milikNYA.

Lalu terdapat misteri apakah sebutir batu mulia pada surat Saman tersebut?sampai Suhubudi memerintahkan Parang Jati untuk menjaga batu tersebut dari tangan yang tidak bertanggung jawab.

Dulu
Mengisahkan Saman pada masa sebelumnya,saat ia menyandang nama Frater Wisanggeni. Pernah mengunjungi padepokan Suhubudi dan ia juga disuguhkan sisi lain dari makhluk yang berbeda wujud dan perilaku.
Masa dimana ABRI sedang gencar-gencarnya masuk desa.

“Bukanlah politis melainkan spiritual.” (Hal. 25)

 

Pada saat itu Parang Jati masih usia sekolah,ia pernah mengenal Frater Wis. Parang Jati merasa suka dengan tamu ayahnya ini. Lalu ia berinisiatif memberikan sebuah kenang-kenangan ,yakni sebuah batu mulia yang telah diasahnya,jenis akik berwarna lapis kuning dan putih dengan bintik hitam seperti anak mata kucing ditengah. Yang menurut Suhubudi,dalam batu itu akan menemukan wajah yang akan mengubah jalan hidup.

Keunikan dari bab ini menurut saya,ternyata batu mustika tersebut adalah batu supersemar yang hilang dan selama ini banyak dicari yang ada hubungannya dengan restu bagi pemimpin bangsa kita. Lalu kisah paklik Bandowo yang mengenaskan seperti yang diceritakan Parang Jati dalam sepucuk suratnya pada Frater Wis. Dalam situs penulis,kisah pemotongan tangan oleh militer tersebut ternyata diambil dari sebuah cerita seorang petani di Tapos yang bernasib sama saat masa orde baru.

Cerita bergulir Saman dengan Yasmin,Saman dengan tokoh Upi,Saman dengan perkebunan karet. Yasmin dan suaminya,Lukas yang sempat menyelamatkan tiga pemuda di rumahnya dibantu oleh Larung.

 

“Lalu lelaki itu bercerita. Tentang seorang perempuan yang dituduh gila. Padahal barangkali perempuan itu hanya jujur. Tapi apakah kejujuran itu?” (Hal. 94)

“Ada yang tak bisa kamu mengerti dengan akal rasional. Bahkan dengan akal budi. Bisakah akal budimu mencerna keburukan?” (Hal 105)

 

Kelak
Sosok Larung bercerita sisi lain candi Loro Jonggrang dan Supersemar pada Yasmin.
Lalu disaat Parang Jati melawan ayahnya sesaat untuk bergabung dengan kawan-kawanya menuntut Soeharto turun,Samantha hilang.

“Bangsa ini gampang melupakan kejadian.” (Hal. 161)

 

Kemudian kita akan disuguhkan kembali sosok Maya,persekongkolannya dengan Gatoloco atau biasa disebut Tuyul lalu kebimbangannya dalam menghadapi suatu perkara mana yang dianggapnya benar maupun salah.

 

“Kita punya pilihan. Untuk lupa dan terus menerus membuat mitos baru,seperti yang sudah-sudah. (Dan hidup dalam kekerdilan ingatan). Atau untuk terus menerus menggali sejarah dan menolak lupa.” (Hal 164)

Akhirnya Suhubudi menjelaskan surat-surat Saman dan batu supersemar kepada Yasmin,yang seperti biasa kalimatnya terkesan dalam untuk seorang yang njawani. Yasmin mencintai Saman dengan cara yang baru,ia belajar keburukan dan kekerdilan dari padepokan.

 

“Dalam hal jiwa,manusia “dijadikan” kerdil,bukan dilahirkan. Dijadikan oleh nilai-nilai yang mengepung dan membentuk mereka. Dan tak semua mampu membebaskan diri.” (Hal. 227)

Novel ini tetap mencirikan seorang Ayu Utami dan selalu memiliki unsur berbeda dari seri novel sebelumnya dan pasti disisipkannya kisah sejarah masa lampau. Namun mungkin karena masih akan ada seri atau novel selanjutnya,maka saya merasa isi novel ini kurang bobotnya. Tapi yaa…itulah penulis selalu tetap berhasil membuat daya tarik sebuah cerita dengan keunikannya dan sayapun masih tetap setia menyukai karya-karyanya 🙂

“Tak semua orang bisa melepaskan diri dari kekerdilan. Sebagian justru menganggap kekerdilan sebagai kebenaran yang harus dipertahankan.” (Hal. 245)

Iklan

2 thoughts on “Maya – Ayu Utami

    Ernawati said:
    10 Mei 2014 pukul 15:43

    Sepertinya menarik sekali kisahnya agak rumit tp bisa dipahami. Pinjem deh. Kapan2 🙂

      matureorchid responded:
      10 Mei 2014 pukul 17:05

      Gak rumit kok. Tenang aja 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s