Berjalan di Atas Cahaya – Hanum Salsabiela Rais dkk

Posted on Updated on

Berjalan di atas cahaya

 

Kali ini kisah perjalanan penulis ke Eropa kembali bercahaya dan bernuansa islami. Namun cahayanya di tulis oleh tiga penulis berbeda yakni Hanum Salsabiela Rais,Tutie Amaliah dan Wardatul Ula.

Hanum berhasil menuliskan kisah-kisah perjalanan ke Eropa. Yang menurut saya jauh lebih menarik dibanding dua penulis dalam cerita ini. Beberapa diantaranya adalah saat mengunjungi Swiss ke kota Bienne yakni kota produsen jam tangan terkemuka di dunia. Menemui salah seorang pekerja disana orang Indonesia biasa dipanggil Bunda Ikoy. Kota yang sunyi dan tampak tenteram.

Cerita selanjutnya bertemu dengan seorang mualaf Markus Klinkner dikenal sebagai ustad di kotanya beristrikan Zubaida seorang warga Singapura. Saya takjub dengan sistem kepercayaan pada jual beli di kota Neerach tersebut yang diserahkan kepada warga setempat,penjual tak perlu menunggui terus dagangannya.

Ada pula kebaikan yang dirasa penulis dan suami saat kesulitan mendapatkan tempat tinggal sementara. Maka Mama Heidi & Reinhard Kramar lah yang menawarkan apartemennya gratis selama 2 bulan.

Kita mengetahui bahwa penulis mengambil kelas bahasa Jerman di Wina. Dari satu kelas tersebut ia berkenalan dengan teman-teman yang memiliki latar belakang berbeda. Ada Daphne seorang dokter anak memiliki suami yang pada saat itu bekerja sebagai tim sukses Obama. Lalu ada Clara masih single di usianya ke 47 tahun yang bekerja sebagai vice president di Perancis. Tak ketinggalan Fatma seorang ibu yang memiliki satu anak, ingin menjadi fesyen designer,namun kini ia menjadi seorang ibu rumah tangga yang hebat dan seorang istri yang kuat bagi suami tercinta.

Ada seorang teman bahasa lain bernama Glori yang selalu mencari Tuhannya dengan cara meditasi dan penulis selalu saja di ajak untuk ikut melakukan meditasi. Aneh memang. Bahkan dari penuturannyapun cara-cara ia bermeditasi pada dasarnya hampir sama dengan apa yang kita lakukan saat beribadah menyembahNYA.

Cerita unik dari Ivano Meciar seorang pria keturunan Sisilia. Dan dari ceritanya pada sebuah gereja Palermo di Sisilia terdapatlah ukiran ayat suci yakni Surat Al Fatihah. Amazing. Seandainya kita dapat menyaksikannya langsung 🙂

O ya penulis pernah menjadi seorang perawat sukarela di sebuah panti jompo. Ia merawat seorang pasien berkesan,bernama Anna Altman. Kondisi orangtua yang dititipkan oleh anak-anaknya ke panti jompo memang banyak terjadi di Wina. Sungguh disayangkan.

Cerita terakhir saat penulis melakukan haji tanpa suami. Dari perjalanan haji tersebut ada kejadian di luar nalarnya yang membuatnya menjadi seorang penulis seperti saat ini.

“The power of the crowd,the danger of the crowd.”

Sedangkan pengalaman Tutie Amaliah sedang beruntung sejak pesawat mendarat dan sesaat sampai di bandara kota Wina. Ia ditolong oleh seorang perempuan baik bercadar hitam. Sayang Tutie tidak sempat mengabadikan gambarnya.

Lalu Tutie pernah menjalan kuliah disamping aktifitasnya sebagai seorang istri dan ibu. Tutie bahkan selalu melewatkan pergaulan bersama teman-temannya hingga ia dicap sebagai seorang muslim yang aneh. Tapi itu semua terbayar saat kelulusan tiba.

Tutie dan rekan-rekan lain memiliki keinginan membangun sebuah mesjid di Wina. Dari ceritanya kita dapat memahami bahwa di sana sebuah mesjid yang terbengkalai akan dirubuhkan dan bisa jadi dibuat gereja atau malah bengkel. Maka Tutie dan rekannya berupaya menyelamatkan mesjid dan kembali meramaikan fungsi mesjid yang semestinya.

Ternyata memang orang asing terhadap seorang muslim masih dianggap remeh,masih dianggap teroris. Seperti yang diceritakan Tanya,kenalan Tutie saat berada di mesjid Rusia. Tapi dari hal tersebut,Tanya akhirnya mendapatkan hidayahnya pada Islam.

Itulah sebagian cerita dalam buku ini yang menurut saya beberapa kisahnya memang menarik disimak tapi kurang istimewa. Rasanya memang lebih sesuai,cerita tersebut dituang ke dalam audio visual.

Iklan

2 thoughts on “Berjalan di Atas Cahaya – Hanum Salsabiela Rais dkk

    Ernawati said:
    3 Mei 2014 pukul 14:01

    Memang ada sedikit ‘lack’ dari novel ini, apaa…gitu ..

      matureorchid responded:
      3 Mei 2014 pukul 18:44

      Mungkin karena penulis ‘kawan-kawan’ itu yang kurang menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s