Blue Jasmine

Posted on Updated on

Blue Jasmine

Kita selalu dimanjakan oleh segala sesuatu yang dinamakan ‘mewah’ belum lagi segala kemudahan yang didapat. Hal itu membuat terlena dan menjadi suatu kebiasaan. Petaka akan datang bila segala hal disebutkan tadi terenggut dari kehidupan kita. Bagi seseorang yang bermental kuat pasti akan berpikir positif dan berusaha mencari jalan keluar demi masa depan. Sedangkan bagi yang berjiwa rapuh,akan mengakibatkan depresi,tekanan hidup yang amat terasa berat karena ‘kenyamanannya’ telah hilang.

 

“Anxiety, nightmares and a nervous
breakdown, there’s only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming.”

Begitulah mungkin,yang dimaksud film yang disutradarai Woody Allen ini. Film yang menyentuh secara psikologis. Berhasil menampilkan kisah kebangkrutan yang tak ingin diakui dan didalamnya terselip sedikit sindiran. Sisi seseorang yang rapuh,sedih dan angkuh ini berhasil dihadirkan dengan performa bagus oleh Cate Blanchett sebagai tokoh utamanya.

 

” Some people, they don’t put things behind so easily.”

Jasmine (Cate Blanchett) sebelumnya adalah seorang sosialita yang terbiasa hidup mewah dengan segala kemudahannya. Jasmine bersuamikan seorang pengusaha bernama Hal (Alec Baldwin). Suatu waktu bisnis yang dijalankan Hal yang merupakan bisnis ilegal tercium oleh polisi dan meyebabkan Hal tertangkap. Mengakibatkan harta yang dimiliki disita dan mengalami kebangkrutan. Jasmine yang tidak banyak mengetahui hal tersebut akhirnya mengalami depresi.

Jasmine pindah ke rumah adiknya,dari kota New York yang mewah ke San Francisco,rumah sederhana Ginger (Sally Hawkins). Jasmine pun berusaha menata kembali hidupnya ia berusaha mencari kerja yang baginya hal tersebut adalah sesuatu yang sulit.
Sedangkan Ginger sendiri sedang memiliki hubungan dengan Chili (Bobby Cannavale) setelah bercerai dengan suami
pertamanya,Augie (Andrew Dice Clay) yang juga pernah merasa ditipu saat berbisnis dengan Hal.

Dengan pikiran yang kacau dan kadang beribicara sendiri,Jasmine juga bermasalah dengan Ginger yang sebenarnya mereka berdua adalah anak adopsi. Keduanya memiliki pandangan berbeda,kedamaian sejenak yang ingin didapat Jasmine mejadi terhalang.

Blue Jasmine menyajikan tontonan yang menarik,tema depresi yang diangkat sebenarnya ada di sekitar kita. Bagaimana seseorang yang telah bangkrut,kehilangan dan sedih namun ironisnya ia menyempatkan menumpang pesawat duduk di kelas satu dengan percaya diri menenteng tas merk Louis Vuitton dan tak ketinggalan pakaian yang mewah.

Sindiran dalam film ini tentunya tidak akan mengena juga tanpa akting ‘kegilaan’ Cate Blanchett yang naik turun,bahkan ia menampilkannya secara halus tanpa ada kesulitan. Performanya berhasil membuat Cate membawa Oscar 2014 sebagai Best Actress In A Leading Role.

Blu Jasmine1

Woody Allen menurut saya selalu membuat film yang unik atau absurd walaupun begitu cerita dalam filmnya selalu memberi makna dalam kehidupan sehari-hari.

Iklan

2 thoughts on “Blue Jasmine

    Ernawati said:
    26 April 2014 pukul 13:54

    aktingnya bagus kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s