Titik Nol – Agustinus Wibowo

Posted on Updated on

Titik Nol,merupakan sebuah novel yang hangat dan menjanjikan pembacanya untuk terus bergerak,terus berkelana walau kadang kita memang harus berhenti sejenak. Novel ini lebih mengharukan dibanding dua novel sebelumnya yakni Selimut Debu dan Garis Batas,lebih akrab dibaca selain karena buku ini didedikasikan untuk ibunda tercinta yang telah wafat tapi menurut saya kisahnya lebih menyentuh dan perjalanan bernuansa spiritual.

Penulis menyebutnya Safarnama diambil dari bahasa Persia. Safar yang berarti perjalanan,Nama yang berarti surat,tulisan atau kitab. Inilah catatan perjalanan penulis yang dibacakan saat pulang ke rumah,kepada sang mama yang sedang terbaring sakit dalam sebuah penantian.
Penulis menggabungkan kisah perjalanannya dengan perjuangan sang mama menghadapi kanker,yang saling berhubungan. Walaupun kisahnya berpindah dimensi waktu namun tidak merubah jalan cerita yang menarik.

Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas negeri di muka bumi,yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu?Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasatmata?Siapa yang menentukan suku-suku,bangsa-bangsa,ras dan etnis?Siapa pula yang tega mengobarkan perang dan pertumpahan darah,demi garis-garis batas itu? (Hal. 35)

 

Senandung Pengembara.
Kisah dibuka saat penulis melakukan perjalanan menuju Urumqi dengan kereta api selama 44 jam. Berlanjut Kashgar,Xinjian dan akhirnya Tibet,atap dunia. Penulis juga sempat melakukan ziarah Kailash dengan medan yang sulit. Dibalik cerita ini penulis sebenarnya memang sudah memiliki keinginan untuk berkelana keliling dunia. Ia kemudian mengenang perjalanan liburan dengan mamanya. Diceritakan pula selama di Tibet penulis berhasil menuju Everest Base Camp dimana harus melalui 108 kelokan.

Nirwana ini dingin. Nirwana ini tinggi di awang-awang. Nirwana ini sunyi,tersembunyi,mematikan. Di Atap Dunia,langit biru menangkup,lembah-lembah hijau menghias di tengah kepungan gunung-gunung yang berwujud barisan kurva bulat ditudungi salju. Sungai jernih bergemericik membelah padang. (Hal. 45)

Surga Himalaya.
Sampailah di Kathmandu,Nepal. Setelah kehilangan uang,dompet dan kamera setengah rusak. Penulis yang awalnya menggebu-gebu mencari siapa pelaku pencuri kini ia menjadi pasrah dan berserah saja. Penulis mengalami keikhlasan spiritual akan hikmah kejadian yang dialami selama ini.
Perjalanan dilanjutkan ke Annapurna,suatu tempat yang kini sudah menjadi objek komersil. Segalanya dimudahkan bagi trekker,unsur alami perlahan akan hilang. Seperti di Tibet,segalanya diukur dengan uang. Mau foto saja harus ada uangnya yang bagi penulis sebenarnya bukanlah jumlah yang sedikit.

 

Hidup itu ajaib. Jalan ceritanya serba tak terduga. Lihatlah,takdir itu justru selalu mengincar orang yang menolaknya. Itu bukan takdir. Itu pilihan. (Hal. 84-85)

Penulis melakukan trekking ke gunung sebutannya Thorong La Pass setinggi 5416 Meter dengan salju tebal dan udara yang tipis. Penulis berjuang susah payah agar sampai di puncak. Sama seperti perjuangan mama yang tak putus asa. Mamanya bersedia untuk operasi demi menghilangkan rasa sakit yang tak tertahan tapi ternyata kanker sudah menyebar ke ginjal,paru-paru dan limpa. Tak ada solusi. Kesedihan melanda. Layaknya filosofi naik turun gunung.

Dari sekian banyak ternakmu,kau hanya butuh dua gelas susu. Dari sedemikian luas tanahmu,hanya segenggam gandum. Dari sebegitu besar rumahmu,hanya separuh kasur. Wahai manusia,apalagi yang masih kau tuntut? (Hal. 158)

Orang kaya itu bukan yang memiliki banyak harta. Orang kaya itu adalah mereka yang berpuas,terbebas dari belenggu kehausan duniawi. (Hal. 159)

Kita melakukan perjalanan demi mencari sesuatu yang tak ada dalam kehidupan kita yang sesungguhnya. Itulah sebabnya,jenis perjalanan yang disuka banyak orang adalah time-travel,perjalanan menembus waktu. Masing-masing kita memendam ekspektasi,setiap tempat memiliki dimensi waktunya sendiri-sendiri. (Hal. 176)

Aku melihat Nusantara di mana-mana,aku mengenalinya,tapi semuanya ditarik ke kutub-kutub yang paling ekstrem. (Hal. 267-268)

Kitab Tanpa Aksara.
Tiba di India-Paharganj-New Delhi. Disambut dengan hiruk pikuk kota yang kumuh,bau tak sedap dan pemandangan tak elok sepanjang perjalanan. Di India penulis bertemu dengan Lam Lie,teman perjalanan berasal dari Malaysia yang pernah bertemu di Kathmandu. Bersama Lam Lie lah mereka menyusuri India. Penulis sebenarnya kagum akan sosok Lam Lie,ia dianggap sebagai guru dan sahabat meski kemungkinan akan perasaan penulis berubah menjadi cinta, namun sikap dan prinsip hidup Lam Lie membuat penulis mundur teratur 🙂

Perjumpaan dan perpisahan,kegembiraan dan penderitaan,semua adalah anugerah. (Hal. 334)

Di India banyak ditemukan buku “Lonely Planet”. Di tempat penginapan akan ada buku tersebut,tempat makan juga menggunakan jurus ini, bahwa makanan yang disajikan sudah pasti enak dan telah di’sah’ kan oleh buku Lonely Planet. Lucu jadinya.

Indonesia memang bukanlah negeri yang sempurna,namun perjalanan membuat aku semakin menghargai tanah airku sendiri,bangsa dan identitasku,masa lalu dan hari depanku. Juga hal-hal yang tak pernah kusyukuri sebelumnya. (Hal. 416)

Hidup bagaikan melayarkan perahu di samudera luas. Kita boleh mengembangkan layar,boleh melempar jangkar,atau mendayung kuat-kuat. Semua itu hanya untuk bertahan,demi lintasi perjalanan. (417)

Kebanyakan pengelana sampai di India akan terkena penyakit. Begitu juga penulis yang terkena hepatitis,dengan kondisi badan lemas kulit dan mata berwarna kuning,sempat dirawat di Rumah Sakit tanpa mengeluarkan biaya alias gratis tapi dengan kondisi Rumah Sakit yang jauh dari higienis dan mengenaskan. Anehnya setelah ia pergi ke seorang kakek yang katanya dapat menyembuhkan penyakit,penulis datang dan disambut dengan aktivitas mantra sang kakek, akhirnya sembuh. Ajaib.

Mamanya mengenang kisah cintanya dengan sang papa,yang seperti bertepuk sebelah tangan.

Mengejar Batas Cakrawala.
Perjalanan berlanjut ke Pakistan Utara,Karimabad meneruskan ke Chapursan tempat dimana tak ada sinar matahari selama dua bulan lebih.
Kemudian melakukan tugas sosial sebagai sukarelawan bencana di Kashmir berbaur dengan masyarakat setempat,setelah belum lama ini mengalami gempa dahsyat.
Perjalanan unik berlanjut ke Tharparkar,ditempat ini sudah 4 (empat) tahun tidak turun hujan,gurun gersang yang dihuni sejuta manusia.
Mama semakin lemah tak berdaya.

Di balik musibah ada keberuntungan,di balik keberuntungan ada musibah. Itu semua bagian dari lika-liku hidup. Tak perlu marah,tak perlu gundah,tak perlu memburu langkah. Nikmati saja,jalan berliku yang penuh kejutan tak terduga. (Hal. 480)

Dalam Nama Tuhan.
Melakukan ziarah di Punjab. Segala macam doa dipanjatkan.
Di Lahore Pakistan,penulis ikut menyaksikan perayaan 10 Muharram atau Assyura dengan tangis dan darah. Selang sehari perayaan terjadi kerusuhan,orang-orang mengamuk,membakar bangunan,toko-toko,restaurant asing kejadian ini dikarenakan beredarnya pelecehan kartun Nabi Muhammad dari media Denmark.
Mamanya mulai tak sadarkan diri,doa-doa & mantra dilantunkan.

Kisah kembali mengenang saat terjadinya kerusuhan masa lalu di ibukota. Ini ada hubungannya dgn emak,nenek penulis yang sedang sakit dan akhirnya meninggal pada saat kejadian, putrinya,sang mama  masih merasa menyesal karena tak mampu memenuhi keinginannya.

Lalu penulis menjabarkan antara Pakistan dan India yg selalu berseberangan. Satu negeri Muslim satu yang lainnya mayoritas beragama Hindu. Tidak ada habisnya saling mengejek.
Tapi Pakistan selalu memperlakukan perempuan dengan istimewa dan dihormati dengan cara menutup semua anggota tubuh dengan burqa kecuali sepasang mata. Di lain sisi efeknya bagi kaum lelaki semakin tak kuasa menahan hasratnya, bioskop-bioskop disana menampilkan film-film vulgar untuk para lelaki.

Mereka menggembor-gemborkankan atas nama agama,tapi pelecehan seksual justru gamblang dan intens. Penulis sendiri pernah mengalami pelecehan saat ia justru penasaran dengan tempat prostitusi Heera Mandi 😀

Itulah pakistan yang sebenarnya adalah negara ramah yang menjamu tamunya dengan baik. Semuanya kehidupan berlandaskan agama. Tidak ada rasa gentar dan khawatir dengan cobaan apapun. Ketakutan hanya pada Allah. Hidup berserah padaNYA. Identitas islam lebih penting daripada identitas kebangsaan. Semua demi agama.
Mamanya sudah ‘dekat’,tapi kerabat,sahabat saling membujuk untuk berpindah keyakinan tapi yang lainnya merasa keberatan.

Penulis kembali berspiritual ia berkisah tentang agama,semua terkungkung dengan namanya agama. Agama yang dapat mempersatukan tapi juga dapat memecah belah. Spiritual tentang agama,agama yg berasal dari hati. Terkadang org hanya memikirkan jalannya bukan hakekat.

Di Balik Selimut Debu.
Di Afghanistan setelah lagi-lagi dicopet kehabisan uang,perjalan masih harus berlanjut. Penulis akhirnya bekerja sebagai foto jurnalis demi mendapatkan uang. Keadaan Kabul sudah menjadi biasa,suara bom dimana-mana,kematian di sekeliling menjadi makanan sehari-hari dan itu menjadi surga bagi jurnalis. Sisi kemanusiaan seakan tersingkir demi sejumlah imbalan. Sungguh Mengenaskan.

Ada seorang rekan kerja penulis,Ahmad namanya yang berusaha menyembuhkan sakit ginjal ibunya ke India. Tapi mereka malah terkatung-katung disuruh menunggu dan hutang uang demi membiayai itu semua.
Sang Mama akhirnya meninggal.

Rumi:Tuhan menghadapkanmu dari satu perasaan ke perasaan lain. Dia mengajar dirimu dengan pertentangan yang saling berlawanan,sehingga kau akan punya dua sayap untuk terbang,bukan cuma satu. (Hal. 525)

 

Pulang.
Mengenang sang mama dengan prosesi kematian yang mengharukan.

 

Pramoedya:Hidup ini bukan pasar malam. Di tengah pesta kehidupan,kita tidak berbondong-bondong pulang. Satu per satu kita datang,satu per satu kita berjalan dan menjelajah,satu per satu kita menciptakan kisah kita masing-masing,hingga tiba saatnya nanti,satu per satu kita mengakhiri jalan ini-pulang. (Hal. 526)

 

Iklan

2 thoughts on “Titik Nol – Agustinus Wibowo

    Ernawati said:
    2 April 2014 pukul 21:29

    pengen baca nih jadinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s