12 Years A Slave

Posted on Updated on

Inilah,sebuah film yang berhasil mendapatkan Best Picture dalam ajang Oscar 2014,12 Years A Slave. Tidak hanya filmnya namun,akting Lupita Nyong’o sebagai Patsey pun meraih penghargaan Best Actress In a Supporting Role dalam ajang yang sama.

Bagaimana sebuah film dengan latar cerita perbudakan ini bisa menjuarai Oscar?saya rasa hanya juri yang mampu menilai,karena saya sebenarnya kurang tertarik dengan tema film seperti ini,jagoan saya Gravity kalah dalam Best Picture tapi cukup puas karena ternyata lebih banyak membawa piala tersebut dari beragam kategorinya 🙂

Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) seorang yang pandai baca tulis ia juga seorang kaum kulit hitam yang bebas dan tentu ia bukanlah budak. Pada suatu ketika, Solomon mendapati dirinya dalam keadaan terbelenggu dan terkurung dalam gelap. Ia terkejut,bukankah ia sebenarnya berada di Washington untuk suatu tawaran pekerjaan?

Solomon menjadi seorang tawanan ,nyata-nyata ia telah ditipu, ia kini menjadi budak dengan nama Platt. Solomon dibeli oleh seorang majikan William Ford (Benedict Cumberbatch) yang baik hati. Solomon diperlakukan cukup manusiawi,bahkan ia cukup cerdas untuk mendapatkan perhatian dari sang majikan. Hal tersebut membuat John Tibeats (Paul Dano) membenci Solomon dan Solomon terlibat perkelahian dengannya yang mengubah nasibnya kelak.

Akhirnya Solomon kini dipekerjakan oleh seorang majikan lain yakni Edwin Epps (Michael Fassbender). Seorang pengusaha perkebunan kapas yang dikenal bertindak kasar dan rasis. Ia tak segan-segan memperlakukan hukuman cambuk bagi siapa saja,budak-budaknya yang melanggar aturan dan tidak sesuai dengan kehendaknya.

Kisah perbudakan kaum kulit hitam memang menjadi sebuah cerita yang unggul,tak kan hilang bagi sejarah Amerika. Rasisme selalu menjadi isu yang hangat. Dalam film ini tak sungkan digambarkan bagaimana perlakuan kasar dan terkesan tidak adil dari sang majikan terhadap budak-budaknya. Sementara sang budak tak mampu berbuat banyak dan tak berani untuk melawan.

Namun bagi Solomon hal ini bukanlah apa yang ia bayangkan,hidup sebagai seorang budak berbagi penderitaan dengan yang lain terkadang membuatnya ingin melarikan diri,namun gagal. Bahkan ia berusaha meminta pertolongan dengan rekan lain tak disangka ini membuatnya semakin terpuruk.

Belum lagi ia harus menyaksikan kekerasan yang diderita oleh Patsey,seorang budak perempuan yang selalu diperlakukan semenan-mena oleh Edwin Epps. Betapa menyakitkan dan turut prihatin kita bila menyaksikan adegan tersebut. Sungguh kelamnya nasib para budak-budak di masa itu.

Jelas film yang disutradarai Steve McQueen ini bukanlah tontonan yang menyenangkan. Kalau dibilang ini membuat juri Oscar terkesima mungkin karena yang saya bilang tadi,isu rasis selalu hangat dibicarakan dan dari sinilah dibuat filmnya dengan sangat serius.

Film yang diangkat dari dari sebuah autobiography berjudul Twelve Years a Slave karya Solomon Northup ini dibuat dengan berani mengaduk-aduk perasaan penonton dengan kebrutalan cambuk,pukulan maupun hal yang mengenaskan lainnya. Steve tidak hanya menghadirkan rasa takut tapi juga menghadirkan kepada penonton akan perjuangan mempertahankan hidup dan harga diri,kita diajarkan bagaimana untuk bertindak adil,mana yang benar dan salah,mana yang menjadi hak dan bukan serta tak ketinggalan menyisipkan pesan kemanusiaan yang penting.

Semua aktor dan aktris yang terlibat cukup menyita perhatian,mereka menarik perhatian dengan sikapnya masing-masing. Debut akting Lupita yang mengenaskan sebagai Patsey berbuah Oscar di tangannya. Saya pribadi sebetulnya lebih terkesan dengan akting Michael Fassbender,aktingnya yang sungguh tidak manusiawi,sungguh meyakinkan.

Jujur ini bukanlah sebuah film favorit tapi tema yang diangkat memang cukup baik dikenal dan itu sudah cukup membuktikan bahwa film ini sebenarnya memang cukup mengejutkan.

“I don’t want to survive. I want to live.”

 

Iklan

2 thoughts on “12 Years A Slave

    Ernawati said:
    21 Maret 2014 pukul 22:08

    pantesan bagus lha wong sutradaranya juga kulit hitam *no wonder*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s