Rantau 1 Muara – A. Fuadi

Posted on Updated on

Rantau 1 Muara

Sebuah impian yang dipupuk dengan matang dan menggebu-gebu sejak masa sekolah membutuhkan perjuangan keras. Perjuangan luar biasa demi mewujudkan sebuah mimpi ditambah kerja keras. Kerja keras yang lebih keras dari rata-rata orang biasa.

Itulah Alif,demi mewujudkan mimpinya bersekolah di luar negeri terutama ke Amerika. Ia tak putusnya terus belajar dan memburu beasiswa. Dan kerja keras pasti diikuti juga dengan pengorbanan.

Sebetulnya di novel ke tiga ini yang mengusung mantra “Man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di di jalannya akan sampai di tujuan) membuat saya yang membaca kurang menyenangi pola jalan cerita yang seperti diceritakan penulis hanya sekelumit-sekelumit per bab. Sepertinya esensi cerita menjadi kurang lengkap. Saya tangkap di cerita ini,Alif selain terus semangat dalam hidupnya ternyata ia beberapa kali pun mengalami juga kebimbangan dan kerisauan.

Dari sejak membuka bab pertama kita sudah akan disuguhkan kalimat-kalimat penulis yang terangkai dengan apik.
Kini Alif kembali ke kostnya di Bandung setelah sekian lama pergi. Ia kini merasa percaya diri karena dengan latar belakang pendidikannya kini pastilah akan banyak tersedia kesempatan bekerja. Memang akhirnya Alif dapat bekerja di sebuah surat kabar terkemuka dan ia mengisi salah satu rubriknya disana.

“Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar,maka menulislah” – Imam Al-Ghazali. (Hal. 9)

Sementara ini penghasilannya mencukupi buat ia dan Amak serta adik-adiknya di kampung. Namun kendala krisis moneter melanda dan Alif terkena dampaknya. Ia pun tetap berupaya mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Simak kisah Alif saat bertemu muka dengan Debt Collector,ia tetap berusaha tenang dan berani walau hati ketar ketir.

“Memang impian bisa jadi nyata tapi yang nyata bisa jadi hampa.” (Hal. 32)

Alif sempat bertemu teman-teman kecilnya. Lalu ia merasa harus memantapkan hati akan kemana tujuannya ia bekerja. Singkat cerita,Alif kini bekerja di sebuah media ternama dan independen di Jakarta yakni Derap sebagai wartawan.

Dari sinilah jalan hidup Alif kembali terbentang dan terbuka. Sampai ia mendapat julukan Doktor (mondok di kantor) karena aktivitas tidur malamnya di kantor demi menghemat biaya :D. Ada pula kisahnya saat ia ditugaskan wawancara di sebuah kamar mayat. Alif pun kembali merasa risau akan pilihan masa depannya pekerjaan yang membuatnya betah ataukah penghasilan yang cukup untuk masa depannya?

“Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan,sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awal mulanya makhluk rohani,yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah.” (Hal. 139)

Mengenai masa depan,dari tempatnya bekerja inilah ia berjumpa dengan anak baru,seorang wanita cantik Dinara namanya. Dari anak baru yang terkesan cuek kemudian menjadi teman ngobrol yang cocok. Hingga Alif sebenarnya memiliki perasaan lebih pada Dinara tapi takut untuk mengutarakannya.

“An nasu a’dau ma jahilu. Manusia itu musuh terhadap apa yang dia tidak tahu.” (Hal. 163)

Demi masa depannya,Alif lalu mendaftarkan diri menembus beasiswa Fullbright dan diterima untuk bersekolah di Amerika,Washington DC tepatnya. Atas izin Amak maka berangkatlah Alif menuju Amerika meninggalkan Indonesia dan Dinara.

Dari sini kembali petualangan Alif dimulai. Di negeri orang ia mulai beradaptasi,mencari tempat tinggal. Berkenalan dengan Mas Garuda yang ternyata pekerjaannya super sibuk demi mengumpulkan modal saat pulang ke Indonesia kelak. Mas Garuda juga menawarkan Alif tempat tinggal,Alif diterima dengan baik dan mas Garuda selalu memasakan makanan untuk Alif yang dianggapnya seperti adik sendiri.

Lalu Alif mulai memantapkan hatinya untuk meminang Dinara. Segala kejadian dari Alif merasa deg-degan saat mengutarakan maksudnya ia tulis sendiri kata-katanya dengan indah dan mengharukan 🙂 sampai ia harus mengutarakan kembali kepada ayahnya,melalui pendekatan yang intens melibatkan ibunya Dinara.

Maka Alif akhirnya terbang ke Jakarta,membeli mas kawin dan pernikahanpun berlangsung dengan khidmat. Dinarapun diboyong Alif ke Amerika.

“Sejak ini,Dinara bukan lagi perempuan biasa. Dia adalah perempuan utamaku,belahan jiwaku. Akulah pembelanya dan pendampingnya seperti dialah pendampingku dan pembelaku. Akulah rajanya,dialah ratuku.” (Hal. 271)

Tentunya mereka sebagai pasangan suami istri pastilah berselisih. Dari hal kecil soal Dinara yang ingin sekali ikut berkarier,tapi hal itu tidaklah menyurutkan cinta mereka. Segala masalah dihadapi bersama dengan tenang.

“Bahwa dunia perkawinan adalah dunia berbagi dan saling mengerti. Bukan dunia meminta dan berharap.” (Hal. 295)

Singkat cerita mereka berdua diterima bekerja di kantor berita idaman,ABN Washington DC. Mereka menjadi ‘dinamic duo’ partner bekerja yang baik dan kompak seperti waktu di Derap. Hidup mereka kembali nyaman,aman dan makmur. Waktu senggang mereka diselingi dengan traveling.

Kenyataan harus berhenti sejenak. Peristiwa 11 September kembali menohok mereka. Mas Garuda yang kini bekerja di New York hilang seiring kejadian dua menara WTC tersebut dihantam ledakan. Mereka bersedih. Mengapa harus kehilangan teman terbaik?

“Kehilangan memang memilukan. Tapi kehilangan hanya ada ketika kita sudah merasa memiliki. Bagaimana kalau kita tidak pernah merasa memiliki?dan sebaiknya kita jangan terlalu merasa memiliki. Sebaliknya,kita malah yang harus merasa dimiliki. Oleh Sang Maha Pemilik.” (Hal. 357)

Bagaimanapun tingginya burung terbang melayang,ia akan pulang ke sarangnya. Sebenarnya begitulah keinginan Dinara sejak lama yang ingin pulang ke Indonesia selamanya. Namun Alif belum ingin. Ia takut. Takut meninggalkan rasa nyamannya. Tapi dari reuni bersama teman-teman pondoklah Alif akhirnya berubah tekad.

“Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba,tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah,tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian. Dan kebermanfaatan.” (Hal. 395)

Cerita yang memberi inspirasi. Sosok Alif melalang ke negara Amerika dan berani memutuskan jalan hidupnya merupakan tindakan seorang lelaki yang patut diacungi jempol. Penulis berhasil membuat cerita yang berbeda dan tutur kalimatnyapun enak dibaca.

Iklan

2 thoughts on “Rantau 1 Muara – A. Fuadi

    Ernawati said:
    28 Februari 2014 pukul 05:51

    wah belom baca novelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s