Life Traveler – Windy Ariestanty

Posted on Updated on

Sekali lagi cerita traveling hadir,namun cerita Life Traveler ini unik karena tidak hanya menceritakan objek-objek wisata saja tapi penulis lebih menikmati manusia dan pemandangan dari sisi berbeda yang ia temui lalu belajar dari apa yang telah ia dapat dan itu membuat buku ini berisi. Berisi karena begitu banyak penuturannya yang sayang dilewatkan.

Diceritakan dengan baik dan terkadang ada unsur filosofinya. Penulis tidak hanya menceritakan kisah perjalanan pada umumnya tetapi lebih banyak perenungan,sebuah proses dalam perjalanan tidak hanya tujuan semata.

“Rupanya,damai itu tak selalu hening. Ia bisa hadir dalam hiruk pikuk.” (Hal. 17)

Penulis seperti ingin menemukan “rumah” untuk pulang. Dimana rumah itu didapat tidaklah harus pada negeri sendiri. Penulis menemukan hotel kecil di Ha Noi yang pemiliknya ramah dan merasa kerasan seperti berada di rumah. Atau kehangatan di warung kopi kecil di Cezka yang sebenarnya masih penasaran apa nama warung kopi tersebut.

“We just need to stay away for a moment to get back home (kita hanya perlu menjauh sesaat untuk bisa kembali pulang).” (Hal. 65)

“Orang bilang,roti selalu berjatuhan dari langit. Saya hanya ingin membuka tangan saya lebar-lebar. Menampung remah-remah cerita yang jatuh dari langit tadi. Saya belum tahu seperti apa ujungnya nanti. Sebab,perjalanan mencari ‘ini’ pun tak akan pernah selesai.” (Hal. 75)

Walaupun tidak banyak tapi penulis tidak lupa pula menyisipkan notes traveling dan gambar-gambar yang cukup bagus. Penulis lebih melihat perjalanan yang dilakoni sebagai sebuah keindahan yang tidak harus terburu-buru dilewatkan,proses perjalanan lebih penting. Bahkan penulis menyempatkan mencurahkan isi hatinya yang bimbang.

“Jatuh cinta membuat orang jadi tak suka bercakap-cakap. Mereka lebih memilih diam dan mengamati orang yang dicintai dengan tatapan penuh kasih. Semua kata kehilangan makna.” (Hal 114)

“Cinta adalah perjalanan panjang,ia tumbuh tua bersama waktu & manusia. Dan ia,tak pernah benar-benar jauh. Selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang.” (Hal. 117)

Lalu ia juga menceritakan sisi lain penjual souvenir yang jujur kepadanya. Dimana hal seperti itu jarang kita temukan,dari situ dapat dipetik pelajaran yang baik yang membuat kita tidak malu dan tidak takut untuk memilih mana yang terbaik bagi hidup kita sendiri.

“Bersikap jujur memerlukan ketegasan. Perhaps,some people think that you are silly because of that. Tapi ketika kita percaya bahwa itulah hal yang benar,maka tak ada hal yang tampak konyol karena mempertahankan hal itu.” (Hal. 233)

Memang semakin kita berada semestinya janganlah semakin sombong dengan apa yang kita punya,seperti kata pepatah “semakin berisi semakin merunduk” begitulah yang ditangkap penulis pada penduduk Swiss.

“Bebas dari rasa iri,bahwa iri adalah musuh utama kebahagiaan. “Don’t shine the spotlight too brightly on yourself or you might get shot.” (Hal. 244)

Banyak kutipan yang menarik justru dari setiap perjalanan yang sebenarnya antara tidak dan disengaja. Jadi memang dalam perjalanan tidak perlu terlalu terikat dengan waktu,nikmati sajalah segala susah dan senangnya :))

“Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself. Home is a place where you can find your love,young girl.” (Hal. 349-350)

 

Iklan

2 thoughts on “Life Traveler – Windy Ariestanty

    Ernawati said:
    27 Desember 2013 pukul 14:37

    Isinya memang lain dari yang lain cara penceritaannya, tapi kurang lucu menurutku 🙂

      matureorchid responded:
      27 Desember 2013 pukul 15:08

      Iya lebih ke dalam perasaannya penulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s