Pulang – Leila S. Chudori

Posted on Updated on

Sepertinya novel Pulang karya Leila S. Chudori ini merupakan novel terbaik yang pernah saya baca tahun ini setelah novelnya Dee – Partikel dan Life Of Pi – Yann Martel. Gaya bahasa yang sesuai bagi saya dan jalinan cerita yang bergulir dengan rapi,enak dibaca membuat saya tak dapat menghentikan bacaan ini bahkan emosipun ikut larut ke dalam cerita yang sungguh mempesona. Rasanya tak bosan mengulang-ulang bacaan novel ini.

Dari awal halaman membaca,saya seperti tersedot ke dalam cerita Pulang,berlatar Indonesia di tahun ’65 hingga Mei ’98. Saya dibawa ke masa lampau,masa sejarah dimana gerakan pada tahun tersebut sebuah partai terlarang berlangsung dari sisi yang berbeda. Hingga di tahun ’98 yang membuat saya kembali teringat akan kejadian-kejadian pada saat itu…sungguh memilukan.

Dan di novel ini,diceritakan dengan baik,menakjubkan dan bagus sekali. Saya kagum dengan penulisnya,dari tahun yang panjang menulis cerita ini hasilnya bukan hanya enak dibaca tapi membuka wawasan dan cara pandang. Rasanya saya penasaran dengan novel Leila yang lain,mungkinkah akan semenarik Pulang?

Novel terdiri atas 3 bagian penting;Dimas Suryo,Lintang Utara dan Segara Alam.
Pada Dimas Suryo diceritakanlah siapa sosok Dimas tersebut lalu kisahnya yang akhirnya terdampar dan menetap di kota Paris. Kemudian mendapatkan cintanya dengan Vivienne Deveraux.

Dimas yang dahulunya pernah bekerja di Kantor Berita Nusantara ini mulai mengenal sosok Hananto Prawiro. Dari sinilah segalanya dimulai,Dimas tidak hanya mengenal sosok Hananto dan teman-teman yang lain seperti mas Nug,Risyaf dan Tjai tapi juga mengenal pandangan politik yang berbeda dan hal tersebut secara sadar mempengaruhi jalan hidup Dimas selanjutnya. Dari Hananto pula Dimas mengenal Surti Anandari,bunga melatinya.

“Saya percaya,Allah memberi rizki kepada saya dengan menyisakan sepetak ruang kecil di hati hambaNya. Dalam sepetak ruang suwung,sebuah gelombang kekosongan,yang hanya diisi antara saya dan Dia,disinilah. Saya mencoba memahami apa yang terjadi.” (Hal. 34)

Terdampar dan menetap lalu tak dapat kembali ke Indonesia,begitulah nasib Dimas dan teman-temannya yang akhirnya berbuah positif yakni “Empat Pilar Tanah Air”. Restoran Indonesia di kota Paris.

“Aku tak tahu di mana aku bisa menempatkan diri menghadapi Zat. Di dunia fana yang kocar-kacir ini,yang warna sungai biru oleh alam kemudia dicat menjadi merah,kini di manakah alamatku pada peta kehidupan dunia?Tak ada yang menjawab.” (Hal. 81)

“Buat saya,memasak sebuah hidangan sama seriusnya seperti menciptakan sebuah puisi. Setiap huruf berloncatan mencari jodoh membentuk kata;setiap kata meliuk,melesat dan mungkin saling bertabrakan dan rebutan mendapatkan jodoh untuk membentuk kalimat yang berisi sekaligus mempunyai daya puitik. Setiap huruf mempunyai ruh,mempunyai nyawa dan memilih kehidupannya sendiri.” (Hal. 116)

Bagian Lintang Utara,dialah putri semata wayang Dimas Suryo yang tumbuh menjadi gadis cantik perpaduan ayahnya Indonesia dan ibunya Perancis. Tidak hanya cantik namun cerdas dan kritis,studi di Universitas Sorbonne yang pada akhirnya ia harus memutuskan ke Indonesia. Tanah yang tak pernah ia tahu dan injak sebelumnya. Yang hanya dikenalnya dari cerita ayahnya serta teman-teman ayahnya.

“Setiap orang memiliki versi sejarahnya masing-masing.” (Hal. 191)

Dalam bab ini diceritakan hubungan Lintang dengan Narayana Lafebvre yang semakin lengket dan tentunya sosok Vivienne sebagai sosok Maman.

“Aku mencintai ibumu untuk segala yang ada pada dirinya. Dan aku mencintai dia karena telah memberikan mutiara terindah seperti dirimu.” (Hal. 281)

Simak cerita “Surat-Surat Berdarah” yang menyayat hati. Membayangkan Lintang dan surat yang ia baca membuat hati turut emosi.

“Kenanga,kamu adalah pohon yang melindungi seluruh isi keluarga,kamu adalah urat nadi kita semua…..”(Hal. 249)

“Aku ingin pulang ke rumahku,Lintang. Ke sebuah tempat yang paham bau,bangun tubuh dan jiwaku. Aku ingin pulang ke Karet.” (Hal. 282)

Bab selanjutnya adalah Segara Alam. Sosok Alam putra dari Hananto dan pandangan serta sepak terjangnya selama ini setelah apa yang terjadi pada keluarganya.
Dan cerita bergulir di Jakarta Mei ’98. Perkenalan Lintang dengan Alam,Bimo,Andini,Kenanga dan Rama memberi kesan tersendiri.

“Jangan sekali-kali meminta maaf untuk mempertahankan prinsip.” (Hal. 363)

Tentunya keluarga adik ayahnya Aji Suryo lalu terutama dengan Surti. Simak cerita “Potret Yang Muram”,wawancara Surti dengan Lintang yang menguras emosi juga.

“Terimakasih sudah datang dan membawa untaian melati ini. Inilah salah satu yang membuat saya selalu bisa bertahan. Anak-anak,harum melati dan pindang serani. Mungkin itu hanya sekadar melankoli. Tapi aku tak keberatan bersandar pada sesuatu yang sudah berlalu,jika itu bisa membuatku kuat.”(Hal. 390)

Intinya,dalam setiap bagian cerita di novel ini tak ada yang tak menarik. Menurut saya semuanya memberi kesan dalam. Dari apa yang diceritakan novel ini seperti nyata. Sekali lagi saya terpesona dan kagum pada novel ini terutama kepada penulisnya,Leila S. Chudori 🙂

“Mengapa hal yang sederhana sering menjadi rumit atau dibikin rumit?” (Hal. 442)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s