99 Cahaya Di Langit Eropa – Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Posted on Updated on

Membaca sebuah novel travelling adalah hal yang menarik. Rasanya kita seperti diajak bertravelling,keliling tempat-tempat eksotis nan indah plus mengenal sejarahnya. Tapi hanya sedikit novel travelling bernuansa islami. Di novel ini penulis membagi pengalamannya bertravelling ke negeri-negeri Eropa dimana dahulunya agama Islam pernah menancapkan kekuasaannya.

Novel ini ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra.
Penulis membagi ceritanya ke dalam 4 bagian. Perjalanan pertama,Wina Austria. Penulis menemukan seorang teman wanita muslim yang baik dan bersahaja bernama Fatma. Bersama Fatma,Hanum berkeliling kota Wina lalu melihat keindahan kota dari atas bukit Kahlenberg dan dapat melihat sungai Danube yang terkenal,dimana di tepi sungai tersebut terdapat Mesjid dengan Minaret,Mesjid Vienna Islamic Center.

Dari Fatmalah,Hanum mengenal dan mempelajari konsep sebagai agen muslim yang baik. Konsep sederhana yang dapat dimulai dengan senyuman. Simak,saat mereka berdua memberi pelajaran terhadap sekumpulan orang di sebuah restoran. Dari kejadian di restoran tersebut kita jadi tahu kalau konon roti Croissant sebenarnya bukan berasal dari Perancis. Roti tersebut diciptakan di Wina untuk merayakan kekalahan pasukan Turki.

“Emosi dan perasaan tersinggung terkadang terlalu kelam dalam diri,menutupi cara berpikir untuk “membalas dendam” dengan cara luar biasa elok,elegan dan jauh lebih berwibawa daripada sekadar membalas dengan perkataan atau sikap antipati.”(Hal 46)

“Sekarang ini dibutuhkan mendesak agen muslim yang menebar kebaikan dan sikap positif. Yang kuat menahan diri,mengalah bukan karena kalah,tetapi mengalah karena sudah memetik kemenangan hakiki. Membalas olok-olok bukan dengan balik mengolok-olok,tetapi membalasnya dengan memanusiakan si pengolok-olok,membayari penuh seluruh makanan dan minuman mereka.” (Hal. 48)

Namun sayang perjalanan yang mereka berdua telah rencanakan harus dialami Hanum sendiri karena,Fatma yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.

Dari Wina,Hanum melakukan perjalanan ke Paris. Ditemani seorang mualaf lulusan Universitas Sorbonne bernama Marion Latimer. Mereka berdua masuk ke dalam museum Louvre dengan koleksinya yang terkenal. Dan menemukan lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus dimana hijab yang dipakai Bunda Maria terdapat kaligrafi Kufic bertuliskan “Laa Ilaha ilallah”.

Marion juga menceritakan tentang garis imajiner yang membelah kota Paris yang berkaitan dengan arah Kiblat di Mekkah. Menarik dan menakjubkan. Pengetahuan yang didapat dari dua perjalanan ini mengesankan.

“Sejauh-jauhnya orang terhadap agama,pada akhirnya dia tak akan sanggup menjauhkan Tuhan dari hatinya. Meski pikiran dan mulutnya bisa mengingkariNya,ruh dan sanubari manusia tidak akan pernah sanggup berbohong.” (Hal. 137)

“Al-‘ilmu murrun syadidun fil bidayah,wa ahla minal ‘asali fin-nihayah”: Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya,tetapi manis melebihi madu pada akhirnya. (Hal. 154-155)

Perjalanan Hanum diteruskan ke Cordoba dan Granada bersama Rangga mengunjungi The Mosque Cathedral. Dimana bangunan ini awalnya merupakan Mesjid namun kini dialihfungsikan menjadi gereja. Mereka ditemani seorang tour guide yang membuka wawasan dan pengalaman pada masa keemasan Islam.

“Mengalah itu tidak kalah,melainkan menang secara hakiki.”(Hal. 208)

Mereka juga berkunjung ke istana Al Hambra. Istana yang menyuguhkan ukiran-ukiran kaligrafi dan membagi ruangannya menjadi tiga bagian. Istana ini diceritakan dulunya diserahkan oleh Mohammad Boabdil merupakan sultan terakhir di Granada,kepada Isabella dan Ferdinand,yang menorehkan sejarah kelam bagi Islam di Spanyol.

Akhirnya Hanum dapat bertemu kembali dengan Fatma di Istanbul. Perjalanan mereka berlanjut ke Hagia Sophia disini hati Hanum berdesir saat melihat medalion tulisan Allah dan Muhammad yang mengapit gambar Bunda Maria memangku bayi Yesus bersanding dengan damai. Kemudian dilanjutkan Blue Mosque dengan kubahnya yang terkenal indah. Lalu Fatma mengajak ke Topkapi Palace yang sederhana dengan bangunan yang asimetris.

Perjalanan Hanum tidak berhenti sampai disini,ada kerisauan yang melanda. Ia ingin kembali ke ‘titik nol’. Dan ia temukan dengan berhaji.

Cerita yang menggugah, bahasa yang disampaikan dengan ringan mampu membangun sebuah pengetahuan bahwa Islam memang pernah hadir di benua Eropa bahkan pernah berkuasa dengan segala keterbatasannya di masa itu. Hal tersebut membuat kita sebaiknya menggunakan akal dan pengetahuan terhadap Islam bukan dengan saling perang mengatasnamakan agama.

“Manusia terlalu ingin terlihat mulia dan setia di hadapan Tuhan dengan membela mati-matian apa yang dianggap benar di mata Tuhan. Padahal,belum tentu Tuhan berkenan…”(Hal. 275)

Sejarah telah membuktikan,bukan agama yang membuat perang dan diperangkan di dunia ini,melainkan nafsu manusia akan kekuasaan dan nafsu manusia yang selalu ingin berbeda. “(Hal. 285)

“Jibril tak memintanya melakukan satu hal. Membaca-menelaah tanda-tanda alam dan mencari terus sumber-sumber kebenaran segala daya upaya,seperti yang dilakukan Ibrahim as. Ayat tersebut juga dilengkapi perintah untuk membaca sekaligus menyebut asma Allah agar manusia tidak terjerumus dengan keterbatasan akal yang hanya bisa menyesatkan.” (Hal. 590)

Iklan

2 thoughts on “99 Cahaya Di Langit Eropa – Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

    Ernawati said:
    8 November 2013 pukul 09:49

    Tinggal nonton filmnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s