Rectoverso Cinta Yang Tak Terucap

Posted on Updated on

Lama setelah membaca bukunya kini hadir dalam filmnya. Awalnya saya pikir yang akan difilmkan hanya satu cerita seperti “Malaikat Juga Tahu”,tapi ini dibuat omnibus dengan lima cerita dan kelimanya disutradari oleh sutradara wanita.

Cerita pertama Malaikat Juga Tahu disutradarai oleh Marcella Zalianty. Cerita seorang pemuda autis,Abang (Lukman Sardi) dan Bunda (Dewi Irawan) yang memiliki kost-an. Salah seorang penghuni kost yakni Leia (Prisia Nasution) mampu mengerti kehidupan Abang.

Hingga Abang merasa menyukai Leia,berada di dekatnya Abang merasa senang.
Sampai datang anak Bunda yang lain Hans (Michael Dommit) berkenalan dengan Leia lalu menaruh hati juga dengannya.

Saya suka cerita yang pertama ini,mungkin karena sudah mengenal terlebih dulu jalan cerita di video klip lagu Malaikat Juga Tahu. Selain itu hasil cerita dari buku ke dalam sebuah cerita ini begitu mengena dengan baik.

Adegan yang pasti mengharukan adalah saat Abang menangis meraung-raung dalam pelukan Bunda dan Bunda tak tahu harus berbuat bagaimana dan apa,hanya membalas dengan pelukan seorang ibu lalu tangis yang menetes. Kasih sayang Bunda bagai malaikat yang tahu apa dan siapa sesungguhnya anaknya.
Nice Marcella!

Cerita kedua,Firasat disutradai oleh Rachel Maryam. Senja (Asmirandah) seorang gadis yang memiliki firasat kuat tentang sebuah kehilangan. Ia pernah memiliki firasat ditinggal oleh ayah dan adiknya saat kecelakaan merenggut nyawa mereka berdua.
Hal ini membuat sang Ibu (Widyawati) cemas tapi ia selalu berusaha menghibur.

Firasat kuat yang kini dialami Senja berhubungan dengan Panca (Dwi Sasono),seorang leader dari klub “Firasat” yang diikuti Senja.
Senja merasa perlukah ia memberitahu firasatnya ataukah tidak,perlukah ia mencegahnya?

Diawal cerita kedua ini terlihat tenang tapi di akhir cerita twist yang dihadirkan barulah membuat kita berpikir. Cerita yang membuat kita harus belajar mengikhlaskan apa yang sudah menjadi suratanNYA.

Cicak Di Dinding adalah cerita yang berikutnya disutradai oleh Cathy Sharon.
Kisah seorang pelukis bernama Taja (Yama Carlos) pertama kali bertemu dengan seorang wanita yakni Saras (Sophia Latjuba). Dimana ini merupakan pengalaman pertama bagi Taja.

Hingga keduanya harus bertemu pula dengan sosok Tio Pakusadewo yang merupakan kekasih Saras sekaligus pemilik galeri dari lukisan Taja.

Menurut saya di cerita ini kurang menarik. Ini hanyalah sisi kehidupan kota besar yang sebenarnya sudah ada,klasik dan tidak unik.

Curhat Buat Sahabat adalah cerita keempat yang dipilih oleh Olga Lidya. Cerita yang berlatar minimalis,karena adegan terbanyak yang dilakukan hanyalah di sofa sebuah cafe.

Dua orang sahabat,yang wanita bernama Amanda (Acha Septriasa) ia mencurahkan segala hal kisah cintanya hingga kandas dengan segala karakter laki-laki yang pernah berhubungan dengannya,kepada Reggie (Indra Birowo).

Sedangkan Reggie,jauh didalam hatinya pastilah cintanya hanya untuk Amanda. Tapi ia sendiri tak yakin atau ia belum sempat mengutarakan? 😉

Sosok Amanda yang cerewet dan tak henti-hentinya bercerita membuat saya berpikir ternyata memang perempuan kalau berhubungan dengan asmara memiliki energi berlebih dan jadi banyak bicara. Tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya untuk berkomentar banyak.

Olga Lidya mampu menerjemahkan cerita tersebut dengan singkat dan padat. Sesuai dengan apa yang dibayangkan.

Cerita terakhir adalah Hanya Isyarat disutradarai Happy Salma. Kalau dari jalan cerita di bukunya memang mirip tapi Happy berhasil memvisualkannya dengan cukup baik walau terkesan lamban.

Al (Amanda Sukasah) seorang wanita pendiam dan penyendiri menyukai seorang lelaki bernama Raga (Hamish Daud) tapi ia hanya mengenal melalui punggungnya saja. Bahkan warna matanyapun ia tak tahu.

Saat teman-teman Al melakukan sebuah permainan dengan bercerita sebuah kisah sedih. Sampailah saat Raga bercerita bahwa mengambil sebuah keputusan hidup dimana segala hal duniawi menjadi hal yang tak berarti. Disanalah Al mengetahui…warna bola matanya 😉

Setelah mengetahui kisah Raga,Al hanya mampu berkirim isyarat melalui apa yang ada disekitarnya,ia pun merasa lega dan bahagia. Dari cerita ini jarang lho..perempuan seperti Al,mungkin karena sifatnya yang pendiam itu dapat membantunya mengatasi gejolak hatinya.

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”

Di cerita ini,saya berhasil menemukan soundtrack yang apik selain Malaikat Juga Tahu,lagu yang dinyanyikan dengan judul yang sama oleh grup Drew ini membuat saya terngiang-ngiang karena sang vokalis suaranya begitu bening dan menenangkan 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s