Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere-Liye

Posted on Updated on

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin..Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. (Hal 63)

Saya baru pertama kali ini membaca novel karya Tere – Liye. Lumayanlah untuk ukuran pengarang pria menceritakan kisah cinta dari sisi sang wanita. Meskipun menurut saya terkesan agak melankolis hehehe…

Adalah seorang Tania gadis kecil yang hidup dengan segala kekurangan setelah ditinggal mati ayahnya. Tania,Dede adik laki-lakinya dan ibunya tinggal dalam rumah kardus dibawah pohon Linden. Tania dan Dede putus sekolah demi mencari nafkah dengan mengamen.

Lalu datanglah seorang malaikat,Danar namanya. Yang baik hati,sopan dan penuh perhatian terhadap mereka. Dari sinilah kisah bermula. Tania yang awalnya bukan siapa-siapa akhirnya bisa menjadi wanita mandiri dan sukses berkat seorang malaikat tersebut.

Tania dan Dede kembali ke bangku sekolah. Hidup mereka kembali sejahtera. Danar membantu tanpa pamrih dan menjadi bagian dalam keluarga tersebut. Namun Tania memiliki perasaan yang bukan sekedar seorang adik terhadap kakaknya,perasaan yang tak bisa dihindari selama ini terhadap Danar.

 

Ibu benar..tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya,membawanya pergi entah kemana. Dan kami akan menegerti,kami akan memahami & kami akan menerima.(Hal. 197)

Kisah ini diceritakan Tania dari lantai dua sebuah toko buku secara kilas balik. Penulis menceritakan dengan runtut tapi sosok Danar dibiarkan misterius. Pada akhir cerita sosok Danar memang hanya seorang manusia yang memang tidaklah sesempurna apa yang telah diceritakan Tania selama ini.

 

Kebaikan itu seperti pesawat terbang,Tania. Jendela-jendela bergetar,layar teve bergoyang,telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi ,kebaikan menyebar dengan cepat. (Hal. 184)

Karakter yang menurut saya gak semestinya adalah Dede,kalaupun sosok Dede tak adapun tak masalah rasanya. Karakternya membosankan. Lalu ada Anne sahabat Tania yang selalu menemani Tania saat suka dan duka. Nasehatnya terhadap Tania terkadang masuk akal juga.

Benarlah kata orang-orang,prinsip hidup itu teramat lentur. Prinsip itu akan selalu berubah berdasarkan situasi yang ada di depan kita,disadari atau tidak. Dan Anne mengubah cara berpikirnya seketika saat melihat teman terbaiknya sedang sekarat oleh perasaan. (Hal. 144)

Intinya menurut saya jalan cerita cukup baik,tapi terkesan “perempuan” sekali kadang temponya lambat. Tapi saya suka dengan kalimat-kalimat positif pada novel ini.

Bahwa hidup harus menerima,penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti,pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami,pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan,pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih & menyakitkan. (Hal. 196)

Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata & mana simpul yang dusta. (Hal. 247)

Tere

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s