Selimut Debu – Agustinus Wibowo

Posted on Updated on

Gambar

“Wahai hati yang terlelap,ketahuilah kerajaan takkan kekal berdiri.

Selamanya dan selamanya,hanyalah buaian mimpi.

Kukagum betapa engkau terbuai dalam kehampaan illusi.

Yang memenggal kepalamu laksana algojo keji.

Meski kau tahu ada tempat berlindung di dunia ini.”

-Rumi-

Kesan pertama yang terucap setelah selesai membaca buku ini adalah “serius”  Ya,menurut saya membaca buku ini layaknya sedang membaca harian Kompas.

Penulis begitu detail menceritakan kisah perjalanannya  ke negeri Afghanistan. Saya sendiri mendapat pengalaman dari hal tesebut. Betapa saya beruntug tinggal di negeri Indonesia ini,dimana segala fasilitas umum dan sosial mudah didapatkan tanpa perlu harus bersitegang dan ‘capek-capek’.

Di negeri Khaak (debu) ini terdiri atas beberapa etnis yakni Tajik,Hazara,Farsiwan dan Pashtun. Tak kaget lagi bila aliran agama disanapun berbeda entah itu Ismaili,Sunni atapun Syiah. Saya kagum dengan penulis yang dapat menguasai bahasa Farsi maupun Dari.

Yang unik dari cerita ini saat para lelaki disana gemar sekali menonton drama Hindustan layaknya ibu-ibu sedang menonton sinetron J.

Tapi bagi saya buku ini kurang greget,kering nyaris tak ada kelucuan yang timbul namun ada makna yang disajikan dibalik cerita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s