Seribu Kunang-Kunang di Manhattan Jun 3, ’11 3:05 PM

Posted on

for everyone
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Umar Kayam
Buku yang ingin dibaca lagi adalah buku Kumpulan Cerpen Umar Kayam-Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

Buku lama tapi baru kali ini kesampaian membacanya. Pertama membaca di awal-awal bab saya seperti sedang menonton film barat zaman dulu tahun 80an. Ceritanya sedikit absurd. Padahal itu buku lama ya..berarti Umar Kayam memang punya imajinasi yang bagus dari dulu. Gaya penulisannya sudah maju selangkah di zamannya.

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan hadir di bagian pertama. Kisah perbincangan yang gak penting antara Marno dan Jane disebuah apartment. Pasangan kekasih yang sedang menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol. Judul ini pernah dimuat di Majalah Horison tahun 1968 dan merupakan serpen terbaik di tahun itu. Kalau saya sendiri untuk cerita ini kurang berkesan.

Bagian kedua, Istriku,Madame Schlitz dan Sang Raksasa. Cerita seorang istri penulis yang sedang berada di NY,tinggal di apartment dan merasa kesepian. lalu menemukan teman dengan nama unik yaitu Madame Schlitz. Hingga pada suatu waktu Madame Schlitz pergi meninggalkan apartmentnya tanpa kabar. Diasumsikan ia hilang ditelan Sang Raksasa :). Unik ceritanya.

Lalu ada Sybil & Secangkir Kopi dan Sepotong Donat. Saya suka dengan jalan cerita kedua judul tersebut. Mirip cerita absurd di film-film dan di cafe kecil film asing.

Nah kalau Chief Sitting Bull,mungkin ini lebih kepada cerita seorang pria paruh baya yang pikun ya….?atau pria dewasa yang senang membual? 🙂

Untuk There Goes Tatum dan Musim Gugur Kembali di Connecticut,saya kurang suka jalan ceritanya. Apalagi Musim Gugur Kembali di Connecticut,ada unsur politik dimasanya yang saya agak malas menelaahnya.

Lalu cerita Bawuk dan Kimono Biru buat Istri membuat saya bosan membacanya.

Saya lebih suka Sri Sumarah. Kisah seorang wanita janda yang dididik untuk pasrah sesuai namanya namun ulet dalam menghidupi anak dan cucunya dengan berbagai rintangan hidup yang ia lalui,dengan sabar. Disini saya membayangkan kalau Sri Sumarah dibuat filmnya :).

Tags:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s