Hotel ProDeo Dec 20, ’10 10:54 AM

Posted on

for everyone
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Remy SIlado
Senin | 20 Desember ’10 | 10.54 WIB

Membaca karya Remy Silado selalu kagum dan ‘nyandu’ ingin terus dibaca dan dibaca hingga akhir cerita. Tak membosankan juga memilki kosakata yang buanyak. Senang dengan istilah-istilah bahasa Indonesianya dan EYD yang tak diragukan lagi. Banyak hal yang dapat diperoleh dari sebuah novel Remy.

Kali ini di novel yang tebal ini,begitu mempesona ceritanya dan rasanya berkejar-kejaran ingin tahu kisah selanjutnya.

Adalah Dharsana atau D.B Dharsana sebagai tokoh sentra. Seorang Komisaris besar dikepolisian tapi memiliki riwayat yang kurang baik. Ia duduk sebagai staf ahli anggota DPR RI. Doyan perempuan.

Ibu Intan,seorang janda beranak satu yakni Marc. Ibu Intan merasa kesemsem saat bertemu Dharsana menyayikan lagu ‘Sepasang Mata Bola’. Akhirnya Dharsana yang juga meninggalkan istrinya yang cacat dan 2 putrinya yang cerewetnya minta ampun,menikah dengan Ibu Intan.

Dharsana dan Marc,bukanlah perpaduan yang sempurna. Ayah dan anak tiri. Tidak akrab.
Hingga Marc mengetahui tabiat buruk sang ayah tiri. Dharsana selingkuh dengan seorang wanita yang digambarkan aduhai dan panas. Dan Marc pun tahu banyak.
Perselingkuhan Dharsana dengan Jeng Retno ini bukan tiada maksud. Maksud yang ada dimasa lalunya.

Wanita aduhai yang dalam setiap pembicaraannya menggunakan bahasa inggris-jawa-indonesia (tipikal orang kita banget ya) adalah Jeng Retno. Jeng Retno merasa kesepian sebagai seorang wanita juga secara finansial setelah ia ditinggal oleh suaminya,Iskandardinata di Hotel Pro Deo,Nusakambangan.

Iskandardinata dihukum karena melakukan penggelapan uang. Jeng Retno tinggal dengan seorang putrinya,Mayang. Mayang ini menjalin hubungan dengan Marc.

Setelah Marc mengetahui kisah terlarang Dharsana. Maka Dharsana dan kawan-kawannya melakukan sebuah rencana kotor. Hingga membuat Ibu Intan sangat kehilangan. Marc pun mati.

Lalu tokoh KC seorang petinju ulung namun kurang bernasib baik. Menjadi korban oleh skenario Dharsana atas pembunuhan Marc. KC pun di buang di Hotel Pro Deo. Berteman dengan Iskandardinata.

Simaklah perlakuan “si ongol-ongol” dan “si labu siam” terhadap KC. Duh….kasihaan..
Apalagi saat ‘ia melihat semua namun tak bisa bicara’ atas skenario sipir-sipir tersebut dengan kematian Iskandardinata. Kematian Iskandardinata jelas ada hubungannya dengan Jeng Retno juga Dharsana.

Semakin seru ceritanya karena akan bertambah kesialan dan kematian dari tokoh-tokooh tersebut. Setelah melalui kebimbangan dan konsultasi dengan Rumah Rukun,Ibu Intan positif untuk bercerai. Dan menuntut Dharsana untuk dihukum atas kematian putranya,inipun setelah Ibu Intan mendapat kan “gaung suara kebenaran” dalam tidurnya.

Adalah Juminah selaku pengacara untuk Ibu Intan dan Untung sebagai JPU. JPU yang diceritakan dengan jujur. Juminah kembar dengan Tuminah,seorang polisi yang nantinya mereka bekerjasama dalam kasus ini. Tuminah dan Rachmat Wiyono,saling membantu. Tak disangka,Rachmat Wiyono ternyata seorang ‘malaikat’ juga. Juminah yang pandai serta timnya dan Tuminah serta yang lain berusaha mengorek keborokan Dharsana.

Dharsana pusing,karena ulahnya dengan James Winata saat kerusuhan Mei itu ternyata gagal. Lalu ia matikan Todung,suruhannya. Dikuburnya dalam rumah Tebet.

Dharsana heboh karena mengetahui jeng Retno bukanlah seperti yang ia kira.Sampai-sampai Jeng Retno pun ikutan gila seperti Mayang,putrinya.

Dharsana mulai ditinggalkan,dari Ibu Intan kini Lukman,supirnya. Yang tahu banyak tabiat buruknya. Tak kehilangan akal Dharsana mulai memangggil pasukannya,Bon Jovi. Tapi rupanya untuk mencelakakan Ibu Intan pun gagal. Karena Tuminah dan Rachmat Wiyono selalu dibelakang Ibu Intan.

Hingga sampailah cerita masa-masa persidangan. Baru tahu kalau persidangan kita itu ya seperti yang diceritakan Remy. Membayangkan suasananya secara benar.

Saksi-saksi dihadirkan dari Juminah,Lukman,istri Todung,Bon Jovi,Anton Wirawan (seorang polisi yang sudah insaf),James Winata, sampai Rachmat Wiryono.
Semua memberatkan. Dharsana yang dibantu pengacara oleh Luhut (yang digambarkan seperti..hmm…tahulah…hehe…) ini tak berkutik dan selalu keliru dihadapan ibu ketua Hakim Nanin Permadi.

Lucu juga dialog salah-benar antara ibu hakim dengan Luhut ini…

Tibalah Dharsana di Hotel Prodeo yakni penjara Nusakambangan. Disanalah ia merasa kesepian karena kini pun ditinggal mati oleh dua anakanya,Sri dan Singgih. Nekat. Dan di Hotel ProDeo itulah Dharsana mati ditangan kedua sipir suruhan Jeng Retno.

Ibu Intan lega karena terbebas dari Dharsana. Walaupun ia bingung dan tak percaya kalau Dharsana mati bunuh diri seperti yang diberitakan. Begitu juga Juminah dan Tuminah.

Ya…Remy mengakhiri ceritanya dengan bagus. Mirip cerita-film barat. Antara menggantung tapi dibuat alasan yang menurutnya itulah siklus hidup.
Hmm..kalau dibikin film gimana yaa….

dalam cerita ini walaupun bukanlah nyata tapi dibuat Remy seakan-akan dalm nyata. Karena beberapa petikan cerita begitu melekat pada gejolaknya ditanah air kita. Risetnya betul-betul mendalam.
Ah..Remy selalu mampu membuat saya kagum.

# En effet,puisqu’il y a parmi vous de la jalousie et des disputes,n’etes-vous pas charnels,et ne marchez-vous pas selon l’homme:Kamu masih manusia duniawi,maka jika ada irihati dan perselisihan di antara kamu itu bukti kamu hidup secara manusiawi.

# Warn them that are unruly,comfort the feeble-minded,support the weak: Tegur mereka yang hidupnya tidak tertib,hibur mereka yang kecewa,bela mereka yang lemah.(Tulisan ada di LBH Mawar Saron tempat Juminah sebagai seorang pengacara)

# Kebaikan Orang harus tetap didingat. Orang yang baik selalu diingat sebagai pihak yang memancarkan kebenaran Illahi.

Tags:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s