The Boy In The Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-garis) Dec 10, ’08 4:51 PM

Posted on Updated on

for everyone
Category: Books
Genre: Childrens Books
Author: John Boyne
Wednesday | 10 Desember ’08 | 16.09 wib
Sebenarnya novel ini masuk ke kategori novel
dewasa tapi karena tokohnya (Bruno) seorang
anak kecil berusia 9 tahun,bisa saja masuk ke
kategori Children books.
Bruno dan ayah ibunya juga kakak
perempuannya (Gretel) harus pindah dari rumah
mereka di Berlin ke Auschwitz karena pekerjaan
ayahnya. Ayahnya bekerja sebagai komandan
Nazi,pimpinan Der Fuhrer (sebutan untuk Adolf
Hitler. Yup!kisah ini berlatar belakang Nazi dan
kamp konsentrasi di Auschwitz. Jadi yang
membaca dan sudah tahu tentang The
Nazi,Hitler,Salam Hitler,Baju dan topi
bergaris,kamp konsentrasi pasti mengerti arah
cerita ini. (Jadi inget cerita di novel Anne Frank
yang sama-sama mengharukan)
Anak Lelaki berpiama Garis-garis itu adalah
Shmuel yang menjadi teman Bruno. Shmuel
berada di kamp konsentrasi dipisahkan oleh
pagar kawat tinggi dengan lingkungan tempat
tinggal Bruno.
Di awal cerita setelah pindah, Bruno merasa
kesepian dan tak memiliki teman. Ia hanya
berkeliling rumah ataupun bermain ayunan
buatannya sendiri tapi membuatnya cedera.
Kejadian-kejadian di rumahnya membuatnya
merasa semakin tidak betah. “Yang Mereka Lihat
Dari Jendela” Kejauhan dari kamar Bruno terlihat
kamp-kamp konsentrasi kaum Yahudi. Tentunya
Bruno sendiri tidak mengerti apa yang terjadi
disana.
Saat “Titik yan Menjadi Noda yang Menjadi
Gumpalan yang Menjadi Bayangan yang Menjadi
Bocah Laki-Laki” disitulah Bruno bertemu dengan
teman pertama dan terakhirnya,Shmuel.
Sejak itu ia semakin senang bertemu dengan
Shmuel walaupun hanya berbagi cerita. Hingga
mereka pernah berjumpa di rumah Bruno
“Kesalahan Bruno” yang membuatnya semakin
bertambah kesal sejak ia pertama kali berjumpa
terhadap lelaki bernama Letnan Kotler,dan
merasa menyesal terhadap Shmuel.
Simak juga “Rencana Petualangan Terakhir”
bersama Shmuel saat Bruno harus kembali
pindah ke Berlin. Hingga “Keesokan Harinya” dan
“Akhir Cerita” yang mengharukan.
Semua cerita berdasarkan sisi Bruno,berdasarkan
penglihatan dan pemikiran Bruno. Jadi
seandainya di cerita Bruno terlihat
menggemaskan dalam arti “Ih..Bruno nih..kok
nggak ngerti-ngerti..dan polos banget” ya wajar
karena Bruno hanyalah anak kecil yang belum
mengerti apa-apa.
Persahabatan antara Shmuel dan Bruno bagai
kepompong (hehe..bak judul lagu). Pokoknya ini
cerita asyik deh..tinggal nonton realisasi di
filmnya aja nih.
Tags:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s