Bilangan Fu Aug 20, ’08 11:12 AM

Posted on

for everyone
Category: Books
Genre: Literature & Fiction
Author: Ayu Utami
26 Agustus ’08 | Selasa | 16.22 wib

Cerita yang menyenangkan,mengagumkan dan membuat rindu untuk selalu membaca kelanjutannya dari novel karya Ayu utami; Bilangan Fu.
Kalau menurut Ayu ini adalah novel spiritualisme kritis,di zaman kini sikap religius dan spiritual disikapi dengan kritis.

Senang membaca novel karya orang yang bisa membagi ilmunya dengan pembaca,yang memiliki wawasan. Membaca novel Ayu seperti membaca novel Remy Silado (my fave too). Penuh dengan kejutan,penuh dengan wawasan baru,penuh dengan olah kata yang enak di telaah.

Novelnya terdiri dari 3 bagian/tema : Modernisme,Monoteisme dan Militerisme. Tokohnya ada Parang Jati,Yuda,Marja,Suhubudi dan lainnya. Tokoh lain yang aneh-aneh yang muncul di ‘Saduki Klan’ pun ada,seperti manusia akar,tuyul.

Tema pertama,Yuda terkesima dan pengalaman yang tak terlupa saat bertemu dengan sahabat barunya,parang Jati (termasuk pembaca,dibuat terkesima juga). Kata-kata dan sikapnya yang selalu mampu menjadi orang yang netral mampu menjawab segala pertanyaan dan pernyataan Yuda.

“Inilah dampak buruk demokrasi:demi apa yang dianggap persamaan hak manusia,kita merusak alam.”

“Berbahagialah mereka yang lemah,karena mereka akan memelihara bumi.”

“…Sifat satria/wigati yaitu sifat yang tidak memegahkan diri. Tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri. Menerima segala sesuatu,merawat segala sesuatu,sabar menanggung sesuatu.”

“…Setiap kita adalah garam dalam kekhususan masing-masing.”

“Berbahagialah orang yang tidak melihat tapi percaya.”

“Tempat menyimpan rahasia adalah diantara jantung dan hati.”

”Orang pintar maupun orang pinter tidak akan tahan nonton “televisi”. Yaitu televisi yang isinya sinetron,infotainment,reality show,dunia hantu dan dakwah ala murahan.”

“Meski demikian,dongen-dongeng adalah data. Data mentah,untuk kau timbang dan kau petakan. Mereka barangkali tidak menyampaikan kebenaran. Tapi keberadaan mereka sendiri adalah fakta.”

“Modernisme memiliki jalan yang lurus,tapi tidak tujuan yang lurus. Takhayul memiliki tujuan yang lurus tapi tidak jalan yang lurus.”

Monoteisme
“…Kama : hasrat,nafsu,asmara,cinta,benih.”

“Sebab suara manusia,Nak,telah menjadi begitu artificial dan congkak.”

“Tahukah engkau,sebelum nol disempurnakan oleh orang-orang Arab,ia memiliki asal sebuah tanda di India: tanda shunya,…”

“Dia yang semula metaforis dan puitis,kini dibaku-bakukan menjadi matematis dan logis. Dia,yang semula ananta dan purna kini menjadi nol. Ia,yang semula tanda,kini menjadi angka.”

Di bab ini,mari mengenal lebih dekat dengan Parang Jati. Sejak kecil sudah terlihat seorang anak baik dan bijak. Juga beberapa pandangan/cerita mengenai Nyai Ratu Kidul lho…

Militerisme
“…Aku datang bukan untuk mengganti. Melainkan untuk menggenapi.”

“Sebuah sikap yang menyertai “laku kritik”. Sikap yangmempercayai sesuatu sekaligus menunda sesuatu itu. Sikap yang tahan menanggung,memanggul,penundaan itu. Penundaan kebenaran. Manusia menginginkan kebenaran hari ini juga. Sayangnya,kebenaran itu tak ada hari ini,meski harus dipercaya setiap hari.
Kebenaran jika ia menampakkan diri hari ini,tak lain tak bukan adalah kecongkakan. Laku kritik adalah menahan kecongkakan. Ia memikul beban berat itu,agar jangan kebenaran jatuh ke tanah dan menjelma pada hari ini.
Biarlah kebaikan yang menjadi pada hari ini. Bukan kebenaran.”

“Tetapi misteri adalah rahasia yang jawabnya tak pernah kita tahu adakah ia tetap dan pasti…”

“Pada teka-teki,jawaban adalah tujuan.”

“Penambangan hanya memberi upah sedikit saja bagi warga……hingga suatu hari nanti,ketika mereka ditinggalkan dengan alam yang telah hancur sama sekali. Dan sejak saat itu mereka akan hidup dibawah garis kemiskinan selama-lamanya.”

“Betapa aneh dan menyedihkan bahwa ada kesederhanaan yang tak bisa diulang. Tidak bisakah kita mengulang kesederhanaan?”

“Karena itu masa lalu-masa-masda yang naïf dan sederhana itu-kita hidupkan lewat cerita.”

“Ia berkata. Kebenaran itu selalu dalam future tense. Kebaikan selalu present tense. Sayangnya bahasa kita tak mengenal penanda kala.”

Di bab ini agak berat ceritanya nih,buat kening berkerut sedikit. Ayu menceritakan pandangan-pandangannya tentang militerisme,kepercayaan baru (Neo Kejawan),Musuh dunia postmodern dan akhir cerita Parang Jati dan Yudha.

Di novel ini dituliskan berdasarkan (seakan-akan) pengalaman Yudha. Yudha “si iblis”,Parang Jati “si malaikat” dan Marja “si manusia”.
Di setiap sisi manusia kalau hanya lurus-lurus saja,sepertinya nggak seru ya…sekali-kali kita perlu untuk bersikap skeptis dan nyeleneh. Membaca Yudha dan Parang Jati seperti dua sisi manusia yang berlawanan namun rukun.

Tags:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s